Unair Gelar Literasi Kesehatan Bumil

Unair Gelar Literasi Kesehatan Bumil dr Muhammad Ardian Cahya saat memaparkan materi literasi kesehatan

SURABAYA, kanalsembilan.net - Gerakan peduli ibu dan anak sehat (Geliat) Universitas Airlangga bersama Unicef kembali menggelar Literasi kesehatan secara online Sabtu (30/10/2021). Webinar Series ini sebagai upaya peningkatan literasi masyarakat khususnya bagi ibu hamil dan nifas yang perlu dilindungi dari paparan covid 19.

Lebih dari 100 peserta mengikuti webinar ini, mereka berasal dari kader PKK, Muslimat, Aisyiyah, mahasiswa, tenaga kesehatan dari kota Surabaya, Jember dan Bojonegoro.

"Harapannya dari webinar ini bisa ditularkan dan disampaikan kepada masyarakat di sekitar kita," Ujar tim dari Unicef, Armunanto. 

Ketua pokja infeksi saluran reproduksi Pengurus Pusat POGI, dokter Muhammad Ardian Cahya Laksana dalam paparannya mengatakan, pentingnya isolasi mandiri bagi ibu hamil yang berpotensi terkena covid 19, agar bisa memutus penyebaran covid 19.

"Mengapa Ibu Hamil / Nifas Harus Isoman? Pertama, Hasil swab antigen atau PCR menunjukkan positif covid-19, kedua Bumil memiliki gejala terpapar covid-19 dan sedang menunggu untuk tes PCR atau hasil tes PCR, ketiga Bumil telah melakukan kontak erat dengan orang terinfeksi covid-19. Keempat, Bumil telah mengunjungi daerah/negara tertentu dengan risiko tinggi covid-19," Ujar dokter yang juga tim pengendali mutu Rumah Sakit Unair itu. 

Menurut dokter Ardian, saat isoman, ibu hamil perlu mengukur dan mencatat suhu tubuh dan saturasi oksigen 2 kali sehari. Bila sesak napas dan demam tinggi segera hubungi petugas Kesehatan. Selain itu bumil juga perlu konsumsi makanan yang bergizi, mengkonsumsi suplementasi zat besi, asam folat, vitamin D, kalsium. Ibu hamil juga membutuhkan 10 gelas air minum per hari (2,5 L) sedangkan ibu menyusui membutuhkan 13 gelas air minum per hari (2,8 L). 

"Lakukan olahraga ringan/streching untuk usia kehamilan diatas 28 minggu, Tidur cukup 6-8 jam, Rutin pantau gerakan janin bila usia kehamilan diatas 18-20 minggu, Hindari stress, lakukan hal-hal yang disenangi, Konsumsi obat-obatan simptomatik maupun antivirus bila dibutuhkan (atas izin dokter melalui pemeriksaan fisik/ telemedicine). Lalu Mengisi logbook harian," Terang dokter Ardan.

Dokter Ardian juga me jelaskan syarat isolasi mandiri bagi ibu hamil dan ibu nifas, diantaranya hasil pemeriksaan Swab Antigen/ PCR Positif, Rumah/lokasi memungkinkan untuk isolasi mandiri, Tidak memiliki gejala atau kategori ringan, Tidak memiliki penyakit penyerta, Mendapatkan izin untuk isolasi mandiri setelah melalui pemeriksaan dari dokter/tenaga Kesehatan.

Selain itu usia kehamilan< 39 minggu, tidak ada komplikasi/ kegawatdaruratan kehamilan dan nifas, Belum ada tanda-tanda inpartu, Isoman dilaksanakan selama 10 hari atau +3 hari bebas gejala. Juga adanya akses pemantauan. 

Dokter Ardian juga menyarankan ibu hamil isoman tanpa gejala untuk mengkonsumsi, vitamin C non acidic 500 mg 3-4 kali sehari

(selama 14 hari), Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam (selama 30 hari), Vitamin D 1000-5000 IU/hari, dan Dapat diberikan multivitamin tambahan (C,B,E dan Zinc). 

Dokter Ardian mengingatkan ibu hamil juga perlu ke rumah sakit jika ada hal hal yang terjadi, seperti gejala bertambah berat, sesak napas, napas terasa berat, Saturasi oksigen< 95%, Gerak janin lemah atau tidak dirasakan, tanda bahaya kehamilan atau tanda bahaya nifas. 

Ibu hamil yang sedang menjalani isoman diberikan konseling dan panduan isolasi. Menghindari pekerjaan berat karena ada potensi persalinan prematur lebih tinggi. Dianjurkan membekali suplemen vitamin. 

Selain itu, membekali diri dengan alat pemeriksa suhu. Harus diberi tahu tanda perburukan. Sebaiknya juga dilakukan telemediCine. Diberitahu cara menghitung gerak bayi. 

"Ibu hamil dengan resiko komobit sebaiknya dilakukan isolasi di tempat khusus. Ibu hamil yang mengalami kebidanan resiko tinggi sebaiknya isoman di rumah sakit," Terangnya. 

Ketika pasca isolasi mandiri, mengingat kemungkinan penyakit akan lebih berat apabila terkena Covid-19 di trimester 5, ibu hamil khususnya yang sudah mencapai trimester 3 sebaiknya sangat membatasi

diri untuk kontak dengan orang lain. Waktu isolasi diri sendiri untuk kasus covid-19 tanpa gejala adalah selama 10 hari dan gejala ringan adalah selama 10 hari plus 3 hari. 

Ibu hamil juga perlu diberikan nomor kontak petugas terdekat. Saat sudah dipulangkan pasca kritis tetap melakukan isoman 7 hari untuk pemulihan dan kewaspadaan. 

Dokter Ardian juga mengatakan, ada panduan bagi bumil jika ingin mengikuti vaksinasi. Semua jenis vaksin yang ada saat ini dapat diberikan pada ibu hamil dan menyusui. lbu hamil yang mendapat vaksinasi diutamakan kelompok seperti tenaga kesehatan, risiko tinggi, usia diatas 35 tahun, Disertai komorbid, Obese (BM diatas 30). Sementara Bumil risiko rendah dapat dilakukan vaksinasi covid-19 setelah konseling.

Vaksinasi covid-19 pada ibu hamil juga hanya dapat dilakukan dengan pengawasan dokter. Pemberian vaksinasi dosis pertama dianjurkan untuk diberikan diatas 12 minggu dan diharapkan paling lambat usia kehamilan 33 minggu. Bagi ibu yang telah mendapat suntikan vaksinasi covid-19 kemudian diketahui hamil, tetap dapat dijadwalkan untuk mengikuti penyuntikan dosis ke-2 (usia kehamilan lebih dari 12 minggu).

"Perlu Melakukan konseling pada ibu hamil yang meliputi; Risiko jika terpapar virus COVID-19, Risiko keparahan infeksi COvID-19, keuntungan vaksinasi COviD-19, keamanan vaksinasi covID-19, " Terangnya. 

Selain itu, Tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan tes kehamilan sebelum dilakukan vaksinasi covid-19. Tidak dianjurkan untuk menunda kehamilan bagi ibu yang telah mendapatkan vaksinasi covid-19 secara lengkap. Pasca penyuntikan vaksinasi covid-19 harus dilakukan pemantauan dan pencatatan oleh tim yang ditunjuk.

incollage_20211030_223021606_compress60

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Jawa Timur, Dokter Waritsah Sukarjiah mengatakan terkait persalinan aman di masa pandemik covid 19, menurutnya hingga 25 oktober 2021, kematian ibu karena covid 19 mencapai 810 kasus atau 72%, sedangkan kematian karena selain covid 19 sebanyak 317 kasus atau 28%. Kematian akibat non covid ini diantaranya karena Eklamsi 28%, Pendarahan 28%, jantung 10%, Infeksi 7% dan lainnya 27%.

Sedangkan kematian bayi berdasarkan usianya sebanyak 64% bayi meninggal di usia 0-6 hari, 18% di usia 7-28 hari, dan 18% di usia 29 hari - 1 bulan. 

Menurut Waritsah, bagi ibu bersalin, semua persalinan dilakukan di fasilitas Pelayanan Kesehatan. Pemilihan tempat persalinan ditentukan kondisi saat skrining risiko persalinan, kondisi saat inpartu, dan status ibu terkait Covid-19. lbu hamil melakukan isolasi mandiri minimal 14 hari sebelum taksiran persalinan Untuk daerah risiko tinggi dilakukan skrining Covid-19 pada H-7 sebelum taksiran persalinan. 

Hasil skrining COVID-19 dicatat di Buku KIA dan dikomunikasikan ke fasyankes tempat rencana persalinan. Rujukan persalinan terencana untuk ibu hamil dengan Memiliki risiko persalinan atau Status suspek dan terkonfirmasi COVID-19. Sementara KB pasca salin tetap sesuai prosedur,diutamakan menggunakan implant dan IUD. 

Waritsah juga menyebut pertolongan saat persalinan itu minimal dilakukan oleh 6 tangan, yakni 1 dokter, 1 bidan dan 1 perawat. Atau bisa juga 1 dokter dan 2 bidan. 

Sementara terkait ibu yang layak hami, Waritsah menyebut diantaranya adalah Usia antara 20-35 tahun, Status gizi normal/ IMT 18,5-25,0, Tinggi badan Lebih dari 145 cm, 

Tidak KEK/LiLA lebih dari 23,5 cm, Tidak Anemia / Hb lebih dari 12 g/dL, Jumlah anak idealnya 2 orang, Jarak antar kehamilan lebih dari 2 tahun, Tidak mempunyai riwayat obstetri yang buruk pada kehamilan sebelumnya.

Selain itu calon ibu tidak mempunyai riwayat dan/atau sedang menderita penyakit kronis atau penyakit dalam kondisi terkontrol, seperti darah tinggi, diabetes, kanker, masalah kejiwaan. Baik perempuan maupun pasangannya tidak mengidap penyakit menular dan penyakit menular seksual seperti TB, Paru, Malaria, IMS, atau penyakit dalam kondisi terkontrol seperti HIV, Hep B. 

"Sebaiknya calon pengantin perempuan dan calon pengantin laki-laki tidak sama-sama mempunyai penyakit atau pembawa sifat Talasemia atau hemofilia," Pungkas Waritsah. 

incollage_20211030_222936543_compress41

Sementara Dhenok Widari A, dari Dinas Kesehatan kota Surabaya mengatakan, Perlindungan terhadap bayi baru lahir dari ibu suspect confirm dan dengan penyediaan ruang isolasi khusus, terpisah dari ibunya(Tidak Rawat Gabung). 

Selain itu, menurur Dhenok, pemberian ASI tetap penting untuk dilakukan meskipu sang ibu suspect covid 19. Sebab, menurut pedoman global WHO, Memberikan ASI kepada bayi di saat pandemi merupakan penyelamat sekaligus pelindung dari tertularnya covid Kepada bayi/anak. Berdasarkan penelitian, belum terbukti virus ini dapat menular lewat ASI karena tidak ditemukan, RNA SARS, CoV2 pada Asi dari ibu menyusui yang terkonfirmasi covid. WHO meminta ibu tang terkonfirmasi covid tetap memberikan ASI nya kepada bayi. 

Dhenok juga menjelaskan, Ibu tetap memberikan ASI kepada bayi dengan memperhatikan prinsip prinsip pencegahan penularan seperti, Bayi baru lahir dari ibu bukan suspect dan terkonfirmasi Covid 19 tetap mendapatkan Inisisasi Menyusu Dini, sedangkan bayi baru lahir dari ibu suspect dan terkonfirmasi Covid 19 tidak dilakukan Inisisasi Menyusu Dini. 

Ibu menyusui yang sehat, suspect dan terkonfirmasi Covid 19 yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah, tetap dapat menyusui secara langsung dengan menerapkan prosedur pencegahan penularan Covid 19.

Jika ibu tidak mampu menyusui secara langsung, pemberian ASI dapat dilakukan dengan memerah ASI, dan ASI perah diberikan oleh orang lain yang sehat. Jib