Materi 34 Model-model Ujub 1: Ujub dengan Nasab

Materi 34 Model-model Ujub 1: Ujub dengan Nasab Foto: Ilustrasi.

Silsilah Amalan Hati dan Penyakit Hati????

https://ilmiyyah.com/archives/5519

Klik audio ????????

????️ Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه لله تعالى
 

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, pembahasan kita kali ini tentang model-model ‘ujub.
Sudah kita jelaskan bahwasanya di antara perbedaan antara ‘ujub dengan riya’ adalah kalau riya’ hanya berkaitan dengan amalan shalih, adapun ‘ujub berkaitan dengan amal shalih dan juga berkaitan dengan perkara dunia.

1. Ujub dengan nasab
Di antara model ‘ujub yang pertama adalah ‘ujub dengannya nasab. Dan ini disampaikan oleh Al-Ghazali dengan kitabnya ihya ulumuddin, dia mengatakan bahwasanya di antara ‘ujub adalah ‘ujub dengan nasab yang mulia sebagaimana ‘ujubnya Al-Hasyimiyah (ahlul bait).

Kemudian kata Al-Ghazali: “Sampai-sampai sebagian mereka bisa selamat dengan kemuliaan nasabnya dan dengan selamatnya leluhur mereka dan ia telah diampuni dosa-dosanya.”
Ini adalah contoh ‘ujub yang menimpa sebagian orang, mentang-mentang dia dari Bani Hasyim. Bani Hasyim adalah ahlul bait, yaitu dari kabilahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Nah, seluruh keturunan Hasyim disebut dengan ahlul bait. Di antaranya adalah keturunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka sebagian mereka -tentu tidak semua, banyak di antara mereka orang-orang yang shalih- tapi sebagian mereka merasa bahwasanya mereka pasti masuk surga. Kenapa? Karena mereka memiliki bahan dasar yang mulia. Sampai ada sebagian mereka mengatakan, saya ketemu dengan mereka langsung, mereka yang sunnah berkata: “Ustadz, kita dulu ketika saya belum kenal sunnah, keluarga kita meyakini kita pasti masuk surga,” dan ini saya dengar langsung dari sebagian mereka mengatakan kita pasti masuk surga.

Ini tentunya diantaranya adalah karena ‘ujub dengan nasab dan ini tentunya tidak benar, tidak ada yang menjamin bahwasanya kalau ahlul bait pasti masuk surga.

Sebagian mereka menganalogikan dengan berkata: “Namanya emas, kalau bahan dasarnya emas, meskipun dilemparkan di comberan, meskipun dilemparkan di kotoran, maka tetap saja emas.” Kalau seorang bahan dasarnya adalah mulia, maka dia pasti akan tetap bersih.

Hal ini adalah tidak benar.
Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan kepada putrinya:
يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Fatimah putri Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mintalah harta dariku, aku akan berikan kepada engkau, tapi aku tidak bisa menolong engkau sama sekali.” (HR. Bukhari)
Nabi juga berkata kepada pamannya, kepada tantenya, seperti Shofiyah:
يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ
“Wahai Shofiyah bibinya Rasulillah,” dari Bani Hasyim.

Selamatkanlah dirimu.

لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Aku tidak bisa menolong engkau sama sekali.”

Jadi tidak ada jaminan sama sekali bahwasanya keturunan Bani Hasyim pasti masuk surga.

Dan kita lihat bagaimana Allah telah menjelaskan dalam kisah-kisah para Ambiya. Kalau ada seorang Nabi yang maksum, cuma Nabinya doang, bagian atas dan bagian bawahnya tidak terjamin.

Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, bapaknya kafir. Lihatkan bagaimana Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, anaknya kafir. Lihatlah bagaimana Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam yang dia disebut dengan Israil, punya anak 12, cucu-cucunya banyak, mereka adalah Yahudi sekarang. Jadi tidak ada (anggapan) berarti saya keturunan Nabi Ya’qub pasti masuk surga.

Kalau begitu Yahudi Israil semua masuk surga? Tidak benar.

Lihatlah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang punya anak namanya Ismail. Dari Ismail punya anak keturunan namanya Quraisy. Semua Quraisy keturunan Nabi Ismail. Lantas apakah kalau keturunan Nabi Ismail pasti masuk surga? Tentu tidak.

 Di antara Quraisy ada Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan banyak sekali yang semua telah dijamin masuk neraka oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karenanya, jelas dalam barometer Islam bahwa yang mulia adalah yang paling bertakwa.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّـهِ أَتْقَاكُمْ
“Yang paling mulia di sisi Allah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat[49]: 13)

Maka kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كُلُّكُمْ لِآدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

“Semua kalian dari Adam dan Adam dari Tanah.

لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ

“Tidak ada keistimewaan orang Arab diatas orang a’jam dan sebaliknya tidak ada keistimewaan orang non-Arab diatas orang Arab.”
إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Kecuali dengan takwa.”
Maka seseorang yang memiliki nasab yang baik seperti nasab Bani Hasyim, ini adalah nasab yang mulia. Maka hendaknya dia mengiringkan dengan keshalihan.

 Jika dia tidak mengiringkan nasabnya yang tinggi dengan keshalihan, maka percuma.
Makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بهِ نَسَبُهُ
“Barangsiapa yang lambat karena amalnya (yang tidak shalih), maka tidak bermanfaat nasabnya yang tinggi.”
Seorang penyair berkata:

Sesungguhnya Islam telah mengangkat Salman (dia bukan orang Arab, dia dari Persia, telah dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan sebaliknya Abu Lahab yang nasabnya tinggi (dari Bani Hasyim) masuk neraka.
Oleh karenanya ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak perlu kita bangga-banggakan dengan nasab kita. Satu bangga keturunan ningrat lah, satu bangga keturunan Raja inilah.
Yang Allah nilai bukan nasab sama kali, yang Allah nilai adalah takwa. Kalau Anda miliki nasab/leluhur yang baik, maka buktikanlah dengan amal shalih Anda, ikutilah leluhur Anda. Sehingga Anda akan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala
والله أعلم بالصواب

(gwa-majelis-ilmu-3).