Zalim Kepada Tetangga Lebih Berat Disisi Allah

Zalim Kepada Tetangga Lebih Berat Disisi Allah Foto: Ilustrasi.



???? Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan segala bentuk kezaliman atas hamba-Nya. Akan tetapi, kezaliman kepada tetangga jauh lebih berat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala daripada kezaliman kepada selain mereka.

????️ Miqdad bin al-Aswad radhiallahu anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, menuturkan,

سَأَلَ رَسُولُ أَصْحَابَهُ عَنِ الزِّنَى، قَالُوا: حَرَامٌ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُولُهُ. فَقَالَ: لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ. وَسَأَلَهُمْ عَنِ السَّرِقَةِ، قَالُوا: حَرَامٌ حَرَّمَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ. فَقَالَ: لَأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat tentang zina. Mereka mengatakan,
‘Zina itu haram, telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya.’
Kemudian beliau bersabda, ‘Sungguh, seseorang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan baginya daripada berzina dengan istri tetangganya.’

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa pendapat kalian tentang mencuri?’
Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya, mencuri adalah haram.’

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ;
‘Sungguh, seseorang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan atasnya daripada mencuri dari rumah tetangganya’.”
(Sahih, HR. Ahmad dalam al-Musnad [6/8], al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [no. 103] dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [20/605])

????️ Pada kesempatan lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa menyakiti tetangga adalah sebab terjerumusnya seseorang dalam neraka meskipun dia adalah ahli ibadah.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata,

قِيْلَ لِلنَّبِيِّ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ وَتَفْعَلُ وَتَصَدَّقُ وَتُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Dikatakan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, :
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulanah senantiasa melakukan shalat malam, berpuasa di siang hari, banyak beribadah dan bersedekah, tetapi dia selalu menyakiti tetangganya dengan lisannya.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, :
“Tidak ada kebaikan pada dirinya. Dia termasuk penghuni neraka.”
(Sahih, HR. Ahmad dalam al-Musnad [2/440] dan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 119)

????️ Bahkan, dalam sabda yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meniadakan keimanan dari orang yang berbuat zalim kepada tetangganya. Abu Syuraih radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيْلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!”
Rasul ditanya,
“Siapa wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.”
(HR. al-Bukhari dalam ash-Shahih no. 6016 dan Ahmad dalam al-Musnad [4/31 dan 6/385])

Diantara contoh (kezaliman dalam bentuk) perbuatan, adalah ;

1. membuang sampah di sekitar pintu tetangga,
2. mempersempit pintu masuknya,
3. atau hal semisalnya yang merugikan tetangga.
4. Termasuk dalam hal ini adalah jika seseorang memiliki pohon kurma atau pohon lain di sekitar tembok tetangga, ketika dia menyirami, (airnya berlebih hingga) melampaui tetangganya.
☝???? Ini pun sesungguhnya termasuk kezaliman yang tidak halal baginya.”

???? Meninggalkan kezaliman terhadap tetangga adalah pokok yang sangat penting dalam bermuamalah dengan tetangga.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan kita dari segala bentuk kezaliman yang pada hakikatnya adalah kegelapan di hari kiamat.

????️Rasululah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”
(Muttafaqun alaih dari hadits Umar bin al-Khaththab)

Majelis  Ilmu

(gwa-majelis-ilmu-3).