Wonosalam Bukan Hanya Daerah Penghasil Durian

Wonosalam Bukan Hanya Daerah Penghasil Durian Penanaman bibit kopo bantuan BI, salam dua taun sudah berbuah. (zainuddin).

SURABAYA-kanalsembilan.net

Wonosalam bukan hanya daerah durian, juga daerah penghasil kopi yang cukup potensial. Memang belum ada event khusus seperti Kenduri Durian yang digelar tiap tahun. Biasanya pada bulan Februari.

Untuk kopi belum event khusus, misalnya Minum Kopi gratis, dan disediakan ribuan cup kopi. Mulai dari kopi Arabica, Robusta, dan Excelca. Namun para petani berharap, BI Jatim bersama intansi lain bisa mewujudkan impian petani itu.

Kehadiran Bank Indonesia (BI) di Wonosalam,  mampu meningkatkan penghasilan petani kopi Wonosalam. Waktu itu BI minta ada peningkatan produksi sebesar 10-20 persen. Namun kenyataannya, produksi meningkat lebih dari 20 persen, dan luasan lahan yang ditanam juga lebih luas.

Minat masyarakat juga meningkat, apalagi BI bukan hanya membantu dari segi ilmu pengetahuan, juga bantuan teknologi pasca panen. Seperti mesin roasting atau mengering, juga cara panen yang benar.

“Dulu petani kalau panen kopi tidak langsung diolah, akibatnya rasanya berubah,” kata  Muhamad Edi Kuncoro, Sekretaris Asosiasi Kopi Wonosalam

Sekarang, petani tidak lagi asal panen. Kopi yang masih hijau, merah dipanen bareng. Sekarang hanya yang merah yang dipanen, dan itupun langsung diolah. Prosesnya memang lebih sulit, namun harganya lebih menjanjikan.

Menurut Muhamad Edi Kuncoro, untuk kopi asalan, atau asal panen harganya sekitar 3.000 per kilogram. Setelah menggunakan teknologi harganya teru naik. Bisa sampai Rp 20 ribu per kilogram. Bahkan ada yang sampai 30 ribu per kilogram.

“Sekarang ini kopi Wonosalam sudah sama kualitasnya dengan kooi luar negeri, bahkan banyak permintaan ekspor, namun belum bisa dipenuhi,” jelas Edi Kuncoro.

Sebagai kawasan penghasil kopi yang telah turun temurun sejak zaman Belanda, petani kopi Wonosalam terus berjuang menembus pasar nasional dan internasional. Hadirnya BI telah berhasil mewujudkan impian petani kopi.

Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jatim Difi Ahmad Johansyah selain itu juga tampak pula Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, Harmanta.

Difi Ahmad menjelaskan kopi Indonesia ada diperingkat empat terbesar didunia yang pertama di Brasil, Colombia, Vietnam kemudian Indonesia hampir semua kopi Robusta .

”Untuk kopi indonesia mempunyai suatu keunikan tersendiri yaitu kopinya sangat tergantung pada daerah yang di tanam ,” ujar Difi Ahmad saat memberikan penjelasan kepada awak media Sabtu 27/11/2020

Kemudian kami akan mengupayakan kopi kwalitas premium artinya adalah bisa harganya lebih mahal, ini akan saya dipromosikan.

Harapan kami pembibit petani kopi itu mampu mengupayakan kopi yang berkwalitas premium, jadi premium tidak hanya bibit tetapi juga dengan pengelohannya.

Dengan demikian nanti harga kopi kwalitas premium harga jualnya lebih tinggi jadi ini potensi sangat besar tetapi kami ingin juga mengarahkan kelas yang lebih premium. Akan tetapi kita mempunyai kelemahan di bidang Produktivitas

” Kemarin kami sempat berdiskusi dengan para pakar kopi sementara ditingkatkan menjadi dua kali lipat asal tahu caranya.” Tutup Difi Ahmad Johansyah

Hamparan tanaman kopinya terletak lereng Gunung Anjasmoro dengan ketinggian rata-rata 600-1000 mdpl berbatasan dengan Kabupaten Kediri, Malang, dan Mojokerto.(za).