Peranan Abu Janda dalam membangun Kontra Narasi Radikalisme di Indonesia

Peranan Abu Janda dalam membangun Kontra Narasi Radikalisme di Indonesia Firman Syah Ali. (ist).

Oleh : Firman Syah Ali

Indonesia adalah negara multiras yang dihuni oleh 271.349.889 jiwa penduduk dari berbagai agama dan kepercayaan. Penduduk yang sangat beragam ini terpisah menjadi 17.491 pulau besar dan kecil. Lima ras utama penghuni negeri khatulistiwa ini adalah Ras Mongoloid, Melanesia, Austro Melanesia (Hasil kawin campur Mongoloid dengan Melanesia-Veddoid), Veddoid dan Kaukasoid Semitik.

Kawasan kepulauan yang dulu terkenal dengan sebutan India Timur atau India Belakang ini pernah dipersatukan dalam satu ikatan politik kenegaraan oleh Gajah Mada, Mahapatih Kerajaan Majapahit yang progresif revolusioner. Setelah Kerajaan Majapahit bubar, Kawasan ini kemudian dipersatukan kembali oleh Kerajaan Belanda dengan nama India Belanda.

Wilayah teritorial India Belanda ini kemudian diambil alih oleh Junta Militer Jepang selama 3,5 tahun. Setelah Junta Militer Jepang angkat kaki dari India Belanda, muncullah Ir Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan India Belanda dari Jepang. Ir Soekarno memberi nama baru untuk India Belanda, yaitu Indonesia. Nama ini sebetulnya sudah dipakai jauh sebelum India Belanda merdeka, yaitu dipakai oleh kelompok Komunis pada tahun 1924 dengan nama resmi Partai Komunis Indonesia (PKI), empat tahun kemudian nama Indonesia dideklarasikan oleh para perwakilan pemuda se India Belanda dalam Sumpah Pemuda. Dan pada tahun 1945, Proklamator mengumumkan Indonesia sebagai nama resmi bangsa dan negara.

Negara semajemuk ini dipersatukan oleh Ir Soekarno dengan narasi persamaan nasib dalam sejarah, bukan persamaan ras, persamaan agama maupun persamaan kehendak politik. Orang-orang yang merasa senasib dalam sejarah ini kemudian menyepakati Pancasila sebagai dasar negara sekaligus ideologi bangsa dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat bangsa.

Alhamdulillah di bawah dasar negara Pancasila, negara Indonesia menjadi sangat kuat dan solid. Republik muda bikinan anak-anak muda ini terbukti berhasil mengusir tentara sekutu yang diboncengi Belanda, juga selalu berhasil menumpas kelompok-kelompok pemberontak dan perongrong negara baik dari kelompok muslim garis keras (radikalis) maupun dari kelompok Komunis.

Negara pewaris kejayaan Majapahit ini juga selalu menang melawan parpol-parpol dan ormas-ormas radikal yang bertujuan merongrong dan membubarkan negara kebangsaan menjadi suatu negara transnasional sebagaimana dicita-citakan oleh para radikalis tersebut.

Sejarah Republik Indonesia terus berjalan tegap dari Pemilu ke Pemilu, dari Presiden ke Presiden hingga tibalah pada tahun 2011 di mana bangsa penghuni negara ini mulai diancam oleh polarisasi politik antara pendukung Jokowi sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta dengan kelompok anti jokowi yang kita identifikasi dimotori oleh kelompok muslim garis keras. Yang dipermasalahkan oleh kelompok revivalis islam ini sebetulnya bukan figur Jokowi, tapi karena Jokowi didampingi oleh seorang non muslim sebagai Wakil Gubernur, setelah sebelumnya kepemimpinan Kota Solo juga diserahkan kepada figur non muslim.

Kekhawatiran kelompok muslim simbolis ini ternyata menjadi kenyataan, tahun 2014 Jokowi maju sebagai Calon Presiden dan Basuki Tjahaya Purnama otomatis naik jadi Gubernur DKI sekaligus berpotensi menjadi Calon Presiden RI setelah Jokowi. Situasi menjadi membara, baik di dunia nyata maupun dunia maya, warganet pecah jadi dua kubu yang selalu berhadap-hadapan, yakni kelompok pendukung Jokowi dan kelompok anti Jokowi. Karena Pak Jokowi suka memelihara kodok maka para pendukung Jokowi diolok-olok sebagai Cebong. Kelompok pendukung Jokowi membalas dengan sebutan kampret terhadap kelompok anti Jokowi, di mana kata kampret kemudian berubah menjadi Kadrun sebagai singkatan dari Kadal Gurun.

Situasi panas ini semakin mencekam karena di panggung internasional telah terjadi arab springs, pertumpahan darah secara maraton di Timur Tengah yang rata-rata berawal dari perang hoax di Media Sosial. Sebagaimana kita tau, kelompok-kelompok yang saling menumpahkan darah di timur tengah tersebut mempunyai banyak kaki dan tangan di Indonesia.

Ketidaksukaan terhadap Gubernur Ahok menemukan bahan bakar yang tepat taktala Gubernur Ahok keseleo lidah dan dianggap menista agama Islam. Kelompok muslim formal inipun menggalang apa yang disebut sebagai Aksi 212 di bawah pimpinan Habib Rizieq Shihab yang kemudian diberi gelar Imam Besar Umat Islam Indonesia.

Peristiwa sejarah berikutnya tentu saja Gubernur Ahok kalah dalam Pilkada DKI kemudian masuk penjara karena vonis penistaan agama dan kelompok 212 tiada henti konsolodasi dan bikin reuni.  

Waktu itu mereka seolah meyakini bahwa siapapun Calon Presiden yang didukung Kelompok 212 pasti menang, namun ternyata ketika kelompok 212 mendukung Prabowo dalam Pilpres 2019, terbukti sebaliknya, Prabowo kalah. Maka dibangunlah narasi kecurangan pemilu dan sebagainya, namun Jokowi jauh lebih negarawan, Jokowi rekrut Prabowo Subianto masuk Kabinet dan memegang salah satu kementerian paling strategis.

Dalam masa-masa fitnah kubro 2011-2021 tersebut muncullah tokoh-tokoh media sosial pendukung ekstensi NKRI dari rongrongan kelompok radikalis. Narasi-narasi radikalisme yang dibangun oleh Barisan Sakit Hati tersebut dilawan dengan kontra narasi radikalisme. Hoax-hoax yang disebar oleh Barisan Sakit Hati langsung dilawan dan diklarifikasi oleh para pejuang Medsos ini.

Resiko tentu saja sangat besar, karena tuduhan mereka terhadap para pejuang NKRI sangatlah kejam, kalau tidak dituduh PKI, ya dituduh Syiah. Tuduhan kafir, antek cina, anjing cina, munafik dan lain-lainnya merupakan sarapan sehari-hari yang distempelkan ke kening para pejuang eksistensi NKRI tersebut.

Perseteruan di media sosial sering berlanjut dengan ancaman fisik secara nyata di alam nyata, maka butuh nyali yang tinggi untuk melawan para penganut teologi maut anti keberagaman tersebut. Kelompok penganut teologi kebenaran tunggal ini mengklaim merekalah islam dan yang tidak sependapat dengan mereka adalah musuh islam. Masyarakat awam mudah termakan oleh provokasi semacam itu, untunglah kyai-kyai kampung yang mayoritas NU aktif membentengi masyarakat dari infeksi virus fitnah kubro tersebut.

Peristiwa paling mencekam dalam fitnah kubro 2011-2021 ini adalah ketika Habib Rizieq Shihab pulang ke Indonesia beberapa waktu lalu. Para pendukung HRS terang-terangan mengabaikan hukum negara, mereka langgar protokoler kesehatan dengan tanpa beban sedikitpun. Waktu itu negara hanya diam dan masyarakat tiarap. Sementara Habib Rizieq Shihab malah berpidato tentang penggal kepala dan sebagainya. Banyak sekali orang tiarap waktu itu, sebab gelombang besar revolusi di bawah pimpinan Imam Besar Umat Islam waktu itu seolah-olah sudah di depan pintu.

Pada saat situasi sangat mencekam tersebut, di mana negara dianggap lumpuh dan tiarap, seorang tokoh media sosial yang bergelar Abu Janda malah bikin Youtube joget-joget menantang agar kepalanya dipenggal. Youtube ini menjadi sangat viral dan semua orang ketawa dalam ketakutan.

Ya itulah Abu Janda, nama aslinya Permadi Arya. Abu Janda merupakan nama parodi dalam rangka menyindir salah satu gembong ISIS asal Indonesia yang bergelar Abu Jandal. Abu Jandal pernah bikin video mengancam nyawa para pemimpin Indonesia, kemudian gelar Abu Jandal ini diplesetkan sebagai Abu Janda dan digunakan sebagai nama medsos oleh Permadi Arya.

Permadi Arya merupakan salah satu pegiat media sosial pro NKRI yang sangat berani dan lantang melawan berbagai fitnah dan hasutan dari kelompok anti NKRI dan anti Bhinneka Tunggal Ika. Silent Majority Indonesia banyak yang merasa terwakili oleh ocehan-ocehan dan jogetan si Abu Janda.

Banyak sekali orang ingin berbicara dan berjoget seperti Abu Janda tapi tidak berani karena banyak alasan, antara lain jaga image, jaga prestise, takut, sungkan, khawatir ditinggal oleh konstituen politik lokal dan sebagainya. Mereka hanya mampu bersuara di dalam hati masing-masing dan Abu Janda yang berani mati tampil menyuarakan apa-apa yang tidak tersuarakan secara terang-terangan oleh silent majority tersebut.

Abu Janda dapat kita sebut sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia dalam melawan para perongrong dan pemecah-belah bangsa, yaitu kelompok radikalis intoleran yang sangat anti dengan keberagaman. Mereka maunya Indonesia ini seragam di bawah satu agama tertentu.

Media Sosial adalah medan perang asimetris. Para pelaku perang asimetris di media sosial dapat kita sebut sebagai tentara dunia maya. Abu Janda merupakan salah satu tentara dunia maya NKRI yang aktif 24 jam melakukan perlawanan secara militan dan sukarela terhadap kaum radikalis intoleran.

Disinilah peran besar ketentaraan dunia maya Abu Janda terlihat. Dia sambungkan lidah-lidah yang kelu. Dia sadarkan banyak orang bahwa yang mereka yakini sebagai kebenaran itu sebetulnya hanya fitnah dan provokasi sekelompok petualang politik yang menunggangi kelompok radikal anti NKRI. Melalui parodi yang lucu-lucu dia sadarkan banyak orang bahwa sebetulnya NKRI sedang dalam bahaya fitnah kubro.

Banyak sekali orang tercerahkan dengan video-video Abu Janda, hanya sekelompok perongrong NKRI yang merasa kebakaran jenggot. Membangun kasadaran publik di era media sosial ini tidak mudah, posisi para pejuang rawan dibunuh, baik dibunuh secara fisik maupun dibunuh karakternya.

Sebagai tentara dunia maya mungkin ada sesekali salah tembak, mau nembak kaki kok kena pantat, mau nembak kepala kok kok kena kaki itu biasa, karena peperangan ini sangat sporadis dan absurd. Namanya juga asimetris.

Kita sebagai silent majority tentu tidak mema'shumkan Abu Janda, kalau memang ada salah ucap misalkan ya silahkan proses hukum, tapi kita yakin Abu Janda tidak bermasud begitu, tidak bermaksud menghina agama sendiri dan menghina salah satu ras di Indonesia.

Abu Janda minta maaflah jika ada salah ucap namun teruslah bela negaramu.


*) Penulis adalah pegiat media sosial pro NKRI asal Surabaya