Menjadi Ayah Ideal di Zaman Now

Menjadi Ayah Ideal di Zaman Now Foto: Ilustrasi.

Al-Imam Muhammad bin al-Munkadir mengatakan,


إنّ اللّهَ عزّوجلّ ليحفظُ بحفظِ الرّجلِ الصّالحِ ولدَهُ، وولدَ ولدِهِ، ودُوَيرَتَهُ الّتي فيها، والدُّويَراتِ حَوْلَهُ، فَمَا يَزَالُونَ في حفظِ مِنَ اللّهِ وَ سِتْرٍ.

“Sesungguhnya Allah akan menjaga anak dengan sebab penjagaan yang dilakukan oleh seorang yang shalih. Juga menjaga cucunya dan keluarga yang ia ada di dalamnya serta kerabat-kerabat yang ada di sekelilingnya. Sehingga mereka senantiasa dalam penjagaan dan pengawalan dari Allah.”

Ayah adalah sosok sentral dalam tumbuh kembang anak. Ayah memiliki andil yang cukup besar atas baik dan buruknya anak. Al-Quran lebih banyak mencatat peran Ayah dalam mendidik anak-anaknya. Hal tersebut dapat dilihat dari dialog-dialog indah antara Orang tua dan Anak. Di dalam al-Quran yang banyak tertulis adalah dialog antara Ayah dan Anak.

Lihatlah betapa indah dialog Luqmanul Hakim dan anaknya. Betapa dahsyat dialog Ibrahim ‘alaihi salam dengan ananda Ismail ‘alaihi salam. Lihatlah bagaimana para ayah ini memanggil anak-anak dengan panggilan yang spesial.

“Yaa Bunayya (wahai ananda)”. Coba rasakan. Betapa indah panggilan itu di gendang telinga. Mungkin  jika dilihat sepintas orang menyangka itu panggilan lembut seorang ibu pada anaknya. Namun ternyata begitulah Al Quran merekam dialog para ayah sejati memanggil lembut anak-anaknya.

Rasulullah pun  sosok teladan sempurna dalam segala hal. Ia adalah ayah terbaik bagi anak-anaknya. Suami terbaik bagi istri-istrinya. Kakek terbaik bagi cucu-cucunya. Guru terbaik bagi murid-muridnya. Pemimpin  terbaik bagi umatnya, dan  seterusnya.

Maka sudah sepantasnya keluarga muslim hari ini mengambil teladan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan mengambil dari teori-teori yang terkadang jauh menyimpang dari syari’at.

Begitu besar peran seorang ayah maka hendaklah seorang ayah memperhatikan perannya dalam keluarga dan pendidikan anak-anak dan istrinya. Paling tidak ada empat peran vital seorang ayah yang harus diperhatikan dalam tumbuh kembang anak.

Ayah sebagai pemain

Sebagai pemain, ayah adalah teman bermain bagi anak-anaknya.  Kedekatan ayah kepada anaknya bisa melalui media permainan.  Karena dengan permainan akan membuat anak merasa nyaman dan sarana untuk membangun ikatan. 

Semakin sering ayah bermain dengan anak, biasanya semakin berkualitas mental anak, semakin tumbuh rasa percaya dirinya, menguatkan ikatan batin antara ayah dan anak dan  tentunya akan memberikan kenangan indah yang menjadi hadiah terindah saat dewasa nanti.

Seorang ayah juga harus bijaksana dan cerdas dalam memilihkan permainan yang sesuai dengan tahapan umurnya, jangan asal beli dengan dalih “yang penting senang.” Jangan sampai permainan yang asal-asalan justru berperan besar pada kerusakan anak dan jauh dari Rabb-Nya. Na’udzubillah min dzalik.

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:


لا يُعوّد الأطفال على الألعاب التي تؤثر فيهم أو في أخلاقهم أو توجّههم التوجيه السيء


“Anak-anak jangan dibiasakan dengan permainan-permainan yang mempengaruhi mereka atau mempengaruhi akhlaq mereka, atau yang akan mengarahkan mereka ke arah yang jelek.” [Liqa’ Maftuh, 10-07-1438 H]

Ayah sebagai guru
Seorang ayah yang baik juga harus bisa berperan sebagai guru.  Oleh karena itu seorang ayah harus bisa mendidik, mengarahkan dan mengajarkan kepada anak. Termasuk kesalahan yang sering terjadi di kalangan orang tua adalah mereka menginginkan kebaikan bagi anak-anak mereka, akan tetapi mereka sendiri tidak berusaha memperbaiki diri mereka.

Mereka ingin anaknya menjadi penghafal al-Quran, tapi mereka sendiri lalai dari membaca al-Quran!
Mereka ingin anaknya shalat tepat waktu berjamaah di masjid, tapi bapaknya sendiri lebih suka bermalas-malasan ketika azan memanggil!
Mereka ingin anaknya menjadi seorang shalih dan berilmu, tapi kedua orang tuanya tidak punya semangat untuk belajar agama!

Al Fudhail bin ‘Iyad rahimahullah mengatakan bahwa Malik bin Diinar rahimahullah pernah melihat seorang laki-laki yang jelek shalatnya.
Beliau lalu mengatakan, “Kasihan sekali keluarganya!”

Ada yang kemudian bertanya, “Wahai Abu Yahya (panggilan Malik bin Dinar), dia yang jelek shalatnya akan tetapi mengapa engkau kasihan terhadap keluarganya?!”

Malik bin Dinar mengatakan, “Dia ini adalah orang tua (panutan) bagi mereka, dari dia keluarganya belajar (meniru).” [Al Hilyah, 2/383]

Apabila orang tua memberikan contoh yang baik dan benar kepada anak-anak, insya Allah mereka akan meniru perkara yang baik dan benar pula. Namun sebaliknya ketika orang tua tidak mau menuntut ilmu dan memperbaiki diri mereka, dikhawatirkan mereka akan menjadi contoh yang buruk bagi anak-anak mereka. Idealnya orang tua khusus para ayah adalah orang yang pertama kali mengajarkan al-Quran pada anak-anaknya.

Ayah sebagai pelindung
Setiap ayah pasti memiliki naluri untuk melindungi anaknya sejak lahir.  Tapi fungsi ayah bukan hanya sebatas itu.  Poin yang paling penting adalah ayah mengajarkan kepada anaknya agar anak bisa menjaga dirinya sendiri. 

Karena orang tua tidak mungkin akan selalu bersama a anak-anak.  Ada kalanya anak akan menjalani dunianya sendiri.  Oleh karena itu kita harus bisa memahami kesukaan anak, kebencian anak dan lingkungan anak.

Ingatlah selalu bahwa peranmu bukan hanya mencari uang..uang dan uang. Namun, lebih dari itu para ayah dituntut bagaimana menjaga dirinya dan anggota keluarga dari panasnya api neraka.

Allah berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrim: 6]

Ayah sebagai sahabat
Seorang ayah dan seorang ibu harus bisa menjadi partner yang baik dalam mendidik anak.  Seorang ayah tidak bisa hanya sekedar mendukung ibu dalam pengasuhan anak, akan tetapi harus bisa menjadi rekan kerja yang baik dengan ibu.  Karena kebersamaan orang tua dalam mendidik anak akan bisa menjadi suri  tauladan bagi anak.

Syaikh Khalid Ahmad Asy-Syantut rahimahullah berkata: “Sebenarnya, seorang ayah itu memiliki peran dalam pendidikan anak yang secara sederhana dimulai sejak dua bukan atau tiga dari masa kelahiran anak. Perannya akan semakin meningkat seiring pertumbuhan anak, sehingga beranjak dewasa, lebih-lebih ketika istri sibuk dengan kelahiran anak berikutnya.

Pada saat seperti itu, anak yang sudah disapih harus didekatkan dengan ayahnya secara konsisten untuk mengurangi kecemburuannya terhadapa adiknya yang baru lahir yang akan mengambil alih kasih sayang ibunya. Anak mulai mengenal suara ayahnya sejak tiga bulan pertama.

Pada tahun kedua, seorang ayah dianjurkan untuk bermain dengan anaknya yang sudah bisa berjalan. Ia harus bisa bermain dengan permainan sang anak dan dengan cara-cara yang menggembirakan dan membuatnya puas. Ketika anak telah mencapai usia empat tahun, sang ayah sebaiknya mengajak anaknya ke masjid, pasar, atau berkunjung ke kerabat dan temannya.

Mengajak anak agar mendampingi ayah akan menumbuhkan jiwa sosial yang baik, dan menanamkan nilai-nilai luhur pada anak. [Daur Bait Fii Tarbiyati Thiflil Muslim].

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Hafizhahullah menjelaskan bahwa ayah sebagai penanggung jawab terbesar dalam rumah tangga berkewajiban mendidik keluarga serta putra-putrinya untuk mentaati Allah. Ia berkewajiban menumbuh kembangkan semua anggota keluarganya berdasarkan asas ketaatan kepada Allah. Dan senantiasa untuk mengiringinya dengan doa.

Sebab di antara do’a-do’a yang dilantunkan oleh para nabi, adalah do’a khusus untuk kebaikan anak-anak dan keturunananya. [Taujihaat Al-Muhimmah Lisy Syabaabil Ummah, hal. 15-16].

Di rumah peran Ayah ibarat kepala sekolah, dan ibu sebagai guru.  Ayah berperan sebagai seorang konseptor yang merancang kurikulum dan ibu sebagai guru pelaksana. Dengan demikian insya allah akan lahir para alumni yang baik.

Sehingga jelas bahwa kewajiban pendidikan anak tidak bisa diserahkan pada sosok ibu semata atau seorang ayah, akan tetapi ayah dan ibu memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan anak-anaknya. Ayah dalam keluarga sangat berperan penting, karena ayah adalah contoh dan panutan untuk keluarga dan anaknya.

Pada akhirya kita bermohon pada Allah agar senantiasa menjaga anak-anak kita dalam jalan yang diridhai-Nya.


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [al-Furqan: 74]
Wa  Allahu A’lam Bisshawab.

(gwa-kbpiijatim).