MENGAPA DUKUN BISA MERAMAL MASA DEPAN

MENGAPA DUKUN BISA MERAMAL MASA DEPAN Foto: Ilustrasi.



Pada hakikatnya berita-berita ghaib yang disampaikan para dukun bukanlah perkara ghaib yang mereka ketahui dengan sendirinya, melainkan berita-berita yang dicuri dengar oleh setan-setan jin dari pembicaraan para malaikat di awan lalu disampaikan kepada setan-setan manusia (para dukun), lalu mereka tambahkan dengan 100 kedustaan, demi menyesatkan orang-orang jahil (bodoh).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ المَلاَئِكَةَ تَنْزِلُ فِي العَنَانِ: وَهُوَ السَّحَابُ، فَتَذْكُرُ الأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَاءِ، فَتَسْتَرِقُ الشَّيَاطِينُ السَّمْعَ فَتَسْمَعُهُ، فَتُوحِيهِ إِلَى الكُهَّانِ، فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya para malaikat turun di awan, maka mereka berbicara tentang perkara yang telah ditetapkan di langit, lalu setan berusaha mencuri dengar sampai mereka dapat mendengarnya, kemudian mereka mewahyukannya kepada para dukun, lalu para dukun tersebut menambah satu berita benar tersebut dengan seratus kedustaan dari diri-diri mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan rahimahullah berkata,

الكاهن هو الذي يأخذ عن مسترق السمع، وكانوا قبل المبعث كثيرا. وأما بعد المبعث فإنهم قليل؛ لأن الله تعالى حرس السماء بالشهب، وأكثر ما يقع في هذه الأمة ما يخبر به الجن أولياءهم من الإنس عن الأشياء الغائبة بما يقع في الأرض من الأخبار، فيظنه الجاهل كشفا وكرامة1، وقد اغتر بذلك كثير من الناس يظنون المخبر لهم بذلك عن الجن وليا لله، وهو من أولياء الشيطان، كما قال تعالى: {وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعاًيَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الأِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الأِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

“Dukun adalah orang yang mengambil berita dari setan pencuri berita (dari pembicaraan malaikat di langit). Dahulu sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam banyak terjadi, adapun setelah beliau diutus maka menjadi sedikit, karena Allah ta’ala telah menjaga langit dengan bintang-bintang (untuk melempar mereka).

Dan kebanyakan yang terjadi pada umat ini adalah dari pengabaran jin terhadap wali-walinya dari kalangan manusia tentang berita-berita ghaib yang akan terjadi di bumi, maka orang yang jahil mengira itu adalah kasyaf (penyingkapan perkara ghaib untuk seseorang) dan karomah (pertolongan Allah untuk wali-Nya), maka manusia kemudian tertipu, mereka mengira yang menyampaikan perkara ghaib dari jin tersebut adalah wali Allah, padahal ia termasuk wali setan, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعاًيَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الأِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الأِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (jin dan manusia), (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia", lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: "Ya Rabb kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat tinggal kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128).” [Fathul Majid, hal. 295]

KETIKA DUKUN MENGAKU KIAI, USTADZ, WALI

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan rahimahullah berkata,

ولا ريب أن من ادعى الولاية، واستدل بإخباره ببعض المغيبات فهو من أولياء الشيطان لا من أولياء الرحمن، إن الكرامة أمر يجريه الله على يد عبده المؤمن التقي، إما بدعاء أو أعمال صالحة لا صنع للولي فيها، ولا قدرة له عليها، بخلاف من يدعي أنه ولي ويقول للناس: اعلموا أني أعلم المغيبات; فإن هذه الأمور قد تحصل بما ذكرنا من الأسباب، وإن كانت أسبابا محرمة كاذبة في الغالب، ولهذا قال النبي صلي الله عليه وسلم في وصف الكهان: " فيكذبون معها مائة كذبة ". فبين أنهم يصدقون مرة ويكذبون مائة، وهكذا حال من سلك سبيل الكهان ممن يدعي الولاية والعلم بما في ضمائر الناس، مع أن نفس دعواه دليل على كذبه؛ لأن في دعواه الولاية تزكية النفس المنهيعنها بقوله تعالى: {فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ}. وليس هذا من شأن الأولياء؛ فإن شأنهم الإزراء على نفوسهم وعيبهم لها; وخوفهم من ربهم، فكيف يأتون الناس ويقولون: اعرفوا أننا أولياء، وأنا نعلم الغيب؟ وفي ضمن ذلك طلب المنزلة في قلوب الخلق واقتناص الدنيا بهذه الأمور. وحسبك بحال الصحابة والتابعين -رضي الله عنهم-، وهم سادات الأولياء، أفكان عندهم من هذه الدعاوى والشطحات شيء؟ لا والله، بل كان أحدهم لا يملك نفسه من البكاء إذا قرأ القرآن، كالصديق رضي الله عنه، وكان عمر رضي الله عنهيسمع نشيجه من وراء الصفوف يبكي في صلاته، وكان يمر بالآية في ورده من الليل فيمرض منها ليالي يعودونه، وكان تميم الداري يتقلب على فراشه ولا يستطيع النوم إلا قليلا خوفا من النار، ثم يقوم إلى صلاته. ويكفيك في صفات الأولياء ما ذكره الله تعالى في صفاتهم في سورة الرعد والمؤمنين والفرقان والذاريات والطور. فالمتصفون بتلك الصفات هم الأولياء الأصفياء، لا أهل الدعوى والكذب ومنازعة رب العالمين فيما اختص به من الكبرياء والعظمة وعلم الغيب، بل مجرد دعواه علم الغيب كفر، فكيف يكون المدعي لذلك وليا لله؟ ولقد عظم الضرر واشتد الخطب بهؤلاء المفترين الذين ورثوا هذه العلوم عن المشركين، ولبسوا بها على خفافيش القلوب. نسأل الله السلامة والعافية في الدنيا والآخرة

“Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang mengaku-ngaku sebagai wali, dan membuktikannya dengan pengabaran sebagian berita-berita ghaib, maka ia termasuk wali setan, bukan wali Ar-Rahman (Allah yang Maha Penyayang).

Sesungguhnya karomah adalah perkara yang Allah perjalankan pada diri hamba-Nya yang beriman lagi bertakwa, apakah karena doa atau amalan-amalan shalih, tidak ada campur tangan wali dalam karomah, tidak pula ada kemampuannya sedikit pun.

Berbeda dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai wali dan berkata kepada manusia, “Ketahuilah aku dapat mengetahui hal-hal yang ghaib”.

Sesungguhnya yang demikian ini memang dapat diketahui dengan sebab yang telah kita sebutkan (yaitu bekerja sama dengan jin pencuri berita ghaib), meski itu sebab yang haram lagi dusta pada umumnya, oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda tentang sifat dukun,

فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ

“Maka dengan bermodal satu berita benar (yang dicuri oleh setan dari pembicaraan malaikat), para dukun tersebut menambah seratus kedustaan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha)

Maka beliau menjelaskan bahwa mereka terkadang benar sekali, dan berdusta seratus kali.

Demikianlah keadaan orang-orang yang menempuh jalan para dukun, tapi mengaku-ngaku sebagai wali dan dapat mengetahui isi hati mausia, padahal pengakuannya itu sendiri adalah dalil yang menunjukkan kedustaannya, karena mengaku-ngaku sebagai wali adalah pensucian terhadap diri sendiri yang terlarang dalam firman Allah ta’ala,

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kamu mensucikan diri-dirimu sendiri.” (An-Najm: 32)

Maka itu bukan sifat para wali, sifat para wali adalah merendah diri (tidak sombong), mengakui kekurangan diri dan takut kepada Rabb mereka, bagaimana mungkin ada wali yang mendatangi manusia dan mengatakan, “Kenalilah kami adalah para wali, dan kami mengetahui ilmu ghaib…?!”

Hakikatnya yang mereka lakukan adalah usaha meraih kedudukan di hati-hati manusia dan mengejar dunia dengan mengaku-ngaku sebagai wali…!

Cukuplah bagimu keadaan para sahabat dan tabi’in radhiyallahu’anhum, padahal mereka adalah pemimpin para wali, apakah mereka mengaku-ngaku sebagai wali dan memiliki ilmu ghaib sedikit saja…?!

Tidak demi Allah.

• Bahkan salah seorang dari mereka tidak mampu menguasai dirinya untuk menangis ketika membaca Al-Qur’an, seperti Sahabat Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu.

• Sahabat Umar radhiyallahu’anhu, terdengar tangisannya bergemuruh di dalam dadanya dari belakang shaf, beliau menangis dalam sholatnya.

• Dan pernah beliau membaca satu ayat dalam wirid beliau di satu malam, maka beliau menderita sakit selama beberapa malam yang membuat para sahabat menjenguk beliau.

• Sahabat Tamim Ad-Dari radhiyallahu’anhu gelisah di atas pembaringannya, beliau tidak bisa tidur kecuali sedikit karena takut neraka, maka beliau pun bangkit untuk sholat malam.

Cukuplah bagimu sifat-sifat para wali yang Allah sebutkan dalam surat Ar-Ra’du, Al-Mukminun, Al-Furqon, Adz-Dzariyyat dan Ath-Thur.

Maka orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, merekalah para wali yang sebenarnya, bukan yang mengaku-ngaku, berdusta dan meyamakan diri dengan Rabbul’alamin dalam perkara-perkara yang khusus bagi-Nya, yaitu kebesaran, keagungan dan ilmu ghaib.

Bahkan sekedar mengaku-ngaku tahu ilmu ghaib adalah kekafiran, bagaimana mungkin orang yang mengaku-ngaku tersebut menjadi wali…?!

Sungguh besar bahaya dan dahsyat ancaman yang ditimbulkan oleh para pendusta yang mewariskan ilmu-ilmu sihir dari kaum musyrikin, dengan itu mereka menipu orang-orang awam yang lemah hati. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ‘aafiyah di dunia dan akhirat.” [Fathul Majid, hal. 299-300]

Maka jelaslah bahwa sihir dan perdukunan adalah kekafiran, dan termasuk kebiasaan orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan kaum musyrikin Arab jahiliyah, janganlah tertipu dengan dukun-dukun yang mengaku-ngaku sebagai wali-wali Allah ta’ala, padahal mereka adalah wali setan.

(gwa-tuoi).