Memetik Pelajaran dari Gempa Majene Bersama Peneliti ITS

Memetik Pelajaran dari Gempa Majene Bersama Peneliti ITS Peneliti Senior dari Pusat Penelitian Mitigasi, Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS, Dr Ir Amien Widodo MSi. (humas).

SURABAYA-kanalsembilan.net

Belum usai mengatasi pandemi Covid-19, awal tahun ini Indonesia dikejutkan dengan ragam bencana alam yang berturut-turut terjadi. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang lumrah karena letak geografis Indonesia yang unik membuat negeri ini bukan hanya menyimpan potensi kekayaan alam, tetapi juga potensi bencana alam. Salah satunya adalah gempa Majene, Sulawesi Barat yang tersiarkan beruntun menyerang hingga mengakibatkan banyak korban jiwa.

Ditemui di Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Amien Widodo mengungkapkan bahwa letak Kabupaten Majene berada di zona patahan, tempat terjadinya tegangan di dalam perut bumi yang dapat mengakibatkan pergeseran atau sesar. Menurut sejarahnya, pada tanggal 23 Februari 1969, terjadi gempa besar berkekuatan 6,9 Skala Richter (SR) pada kedalaman 13 kilometer di sana.

Peneliti senior dari Puslit MKPI ITS ini kemudian menjelaskan bahwa sesar yang berada di Majene merupakan sesar yang masih sangat aktif. Hal itu ditunjukkan oleh pergeseran yang masih sering terjadi dan gempa yang mengikuti pergeseran itu. “Sesar aktif di Majene ini merupakan sesar naik yang sering menyebabkan gempa dangkal di sana, seperti baru-baru ini (terjadi),” ungkapnya.

Gempa pembuka dicatat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terjadi pada pukul 13.35 WIB di kedalaman 10 kilometer dengan kekuatan 5,9 SR. Skala tersebut diestimasi akan berpotensi menimbulkan kerusakan. “Benar saja, gempa memicu terjadinya rockfall (runtuhan batu) di perbukitan yang kemudian merusak rumah warga di sana,” sebut Amien.

Peristiwa gempa itu disebut sebagai gempa pembuka (foreshock). Karena setelah keesokan harinya, Jumat (15/1), telah terekam terjadi gempa susulan sebanyak 28 kali di Majene dengan magnitudo yang beragam. “Misalnya pada gempa kedua dengan kekuatan 6,2 SR dirasakan bukan hanya di Majene, melainkan sampai ke Mamuju dan Palu,” ujarnya.

Gempa yang mengguncang Majene dan Mamuju memiliki skala intensitas V-VI Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada level ini, gempa sangat berpotensi memicu kerusakan. Sementara di Mamuju Tengah, Palu, Mamuju Utara, dan Mamasa, benda-benda terpelanting akibat gempa dengan skala intensitas III-IV MMI.

“Melihat dampak dan besar kekuatannya yang lebih besar dari sebelumnya, sementara kejadian yang terjadi Jumat (15/1) dini hari itu ditetapkan sebagai gempa utama (mainshock),” paparnya mengutip pernyataan BMKG.

Lanjut Amien, semua berharap ketetapan itu tidak berubah dan justru melemah. Sehingga, tidak ada gempa yang lebih besar lagi dan tersisa gempa susulan (aftershock) yang kekuatannya semakin mengecil hingga keadaan kembali stabil. “Meski demikian, kita harus mengingat betul sejarah pesisir Majene yang pernah dilanda tsunami pada tahun 1969 akibat bagian fold thrust belt (jenis sabuk lipatan daerah deformasi, red) sesar Majene yang terletak di lepas pantai,” imbau dosen Departemen Teknik Geofisika ITS ini.

Laporan Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 17 Januari 2021 menyatakan bahwa jumlah korban meninggal akibat gempa magnitudo 6,2 pada 15 Jauari 2021 lalu menjadi 70 orang dari Mamuju dan 11 orang dari Majene. Sebanyak 189 orang mengalami luka berat dan harus menerima perawatan di Mamuju dan sekitar 637 orang yang mengalami luka di Majene mendapati penanganan rawat jalan. “Sisanya, sekitar 15.000 penduduk tersebar di sepuluh titik pengungsian,” ujarnya prihatin.

Sementara itu, ruas jalan Majene-Mamuju juga sempat terputus karena mengalami longsor. Sekitar 1.150 unit rumah di Majene terdata alami kerusakan dan 15 sekolah turut terdampak. Sedangkan di Mamuju, tercatat kerusakan berat juga menimpa kantor Gubernur Sulawesi Barat dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mamuju. (qaf/za).