MANUSIA BANYAK YANG LUPA DARATAN

 MANUSIA BANYAK YANG LUPA DARATAN Foto: Ilustrasi.

 *TAFSIR JUZ AMMA (123)
???? QS.  al-Balad/90: 55-10

{أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ (5) يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا (6) أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ (7) أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ (8) وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ (9) وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (10)} [البلد : 5-10]

TERJEMAH
_(5) Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya? (6) Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” (7) Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya? (8) Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata,
(9)    dan lidah dan sepasang bibir? (10) Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)_

KOSAKATA:
1.  Lubadan لُبَدً (al-Balad/90: 6)
     Kata lubad berarti yang banyak. Kata ini jamak dari masdar lubdatan yang terbentuk dari kata kerja labada. Akar maknanya adalah sesuatu menumpuk di atas sesuatu yang lain. Harta yang banyak disebut malan lubadan karena begitu banyaknya sehingga sebagian menumpuk dan lengket pada sebagian yang lain. Makna ini identik dengan maksud kata lubad yang ada pada Surah al-Jinn/72: 19, yang menerangkan bahwa para jin mendengarkan bacaan Al-Qur'an Rasulullah dan merasa takjub, sehingga mereka nyaris jatuh menimpa beliau.

2.  An-Najdain النَّجْدَيْن (al-Balad/90: 10)
     Kata najdain berarti dua jalan. Secara etimologis kata ini berarti tempat yang keras dan tinggi, atau jalan yang berada di dataran tinggi. Darinya diambil kata rajulun-najidun yang berarti laki-laki yang kuat. Kata najdain dalam ayat ini digunakan untuk menunjuk dua jalan kebenaran dan kebatilan dalam keyakinan, kejujuran, dan kebohongan dalam ucapan, serta yang baik dan yang buruk dalam perbuatan.

MUNASABAH
     Pada ayat-ayat yang lalu, Allah menegaskan bahwa manusia itu terlahir dengan kesulitan. Oleh karena itu, ia perlu berjuang dalam hidupnya. Pada ayat-ayat berikut ini, Allah meminta agar manusia jangan sombong bila telah berhasil dalam perjuangan hidupnya, karena keberhasilan itu tidak terlepas dari bantuan Allah.

???? TAFSIR
     (5) Dalam ayat ini, Allah bertanya apakah manusia yang selalu berada dalam kesulitan, dan untuk bisa hidup harus mampu mengatasi kesulitan itu, dapat menyombongkan dirinya setelah berhasil dalam perjuangan itu. Menyombongkan diri itu misalnya menyangka dirinya begitu kuasanya sehingga berpandangan bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan mampu menyaingi dan mengalahkannya, termasuk Allah sendiri. Ia tidak boleh berpandangan demikian karena bila ada seorang yang hebat, pasti akan ada lagi orang yang lebih hebat darinya. Di atas segala yang hebat itu, Allah adalah yang terhebat dari segala yang hebat, sebagaimana difirmankan-Nya:

{ ....وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ} [يوسف : 76]

Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.
(Yusuf/12: 76)

     (6) Kesombongannya itu misalnya berkenaan pengeluarannya untuk membantu orang lain. Pengeluaran itu dalam pandangannya sudah begitu besar, sehingga dianggapnya sia-sia. Ia merasa pengeluaran itu sudah sangat banyak sehingga tidak akan ada seorang pun yang akan mampu menandinginya, karena itu ia menjadi sombong.
     (7) Allah bertanya mengenai orang yang sombong dengan pengeluarannya itu, “Apakah ia mengira bahwa tidak seorang pun yang melihat perbuatannya itu?” Artinya, bila ia sombong dengan pengeluarannya itu, berarti ia mengorbankan kekayaannya hanya untuk mencari nama, maka pengorbanan itu tidak akan diterima-Nya. Jangan ia menyangka bahwa Allah tidak melihat perbuatannya itu dan tidak mengetahui motif di  balik perbuatan baiknya itu, yang tidak diketahui oleh manusia.
     (8-10) Allah selanjutnya bertanya mengenai orang itu, “Tidakkah Kami beri ia dua mata?” Artinya, untuk dapat mencari kekayaan, ia perlu dua mata, lalu siapakah yang memberinya dua mata itu bila bukan Allah? Untuk mencari rezeki ia perlu berbicara, lalu siapakah yang telah memberinya lidah dan dua bibir untuk mampu bicara? Dalam membesarkannya, ia telah menyusu pada kedua susu ibunya, siapakah yang telah menyediakan air susu ibunya itu bila bukan Allah? Dengan demikian, keberhasilannya adalah karena bantuan dan kasih sayang Allah. Oleh karena itu, ia tidak perlu menyombongkan dirinya karena hartanya.
Di samping itu, mata, lidah, dan nafsu adalah nikmat Allah kepadanya yang tiada taranya. Ia akan bertemu dengan dua jalan yang disediakan Allah, yaitu jalan yang benar dan jalan yang salah. Ia perlu menggunakan mata, lidah, dan nafsu itu untuk jalan yang diridai oleh Allah.

KESIMPULAN
1.    Manusia tidak boleh sombong dan merasa lebih hebat dari orang lain, karena pasti ada yang lebih hebat darinya. Yang terhebat itu hanyalah Allah.
2.    Manusia tidak boleh ria dalam berkorban, karena penghasilan yang didapatkannya untuk bisa berkorban itu diperolehnya melalui kemampuan yang diberikan Allah.
3.    Manusia perlu mensyukuri nikmat Allah yang tiada tara kepadanya, yaitu mata, lidah, dan nafsu, dengan menggunakannya untuk hal-hal yang diridai-Nya.

 InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke al-Fajr/89 ayat 11-18 tentang ”BALASAN BAGI MEREKA YANG BERHASIL MELAKSANAKAN PEKERJAAN BESAR”

‎والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


????✍ Dinukil oleh: Alfaqir illallah Mangesti Waluyo Sedjati

???? REFERENSI :
    1.    Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi  
       yang Disempurnakan) Juz 30,
      Departemen Agama RI,
      diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
      Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
      Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
      Jakarta, 2010
    2.    ???????? Aplikasi Quran Word by Word
__

#pastikan patuhi protokol kesehatan

???? Follow us
????Channel Telegram
https://t.me/kajianBaitulIzzah
(Pria/Ikhwan)
https://t.me/PengajianBaitulIzzahAkhwat
(Wanita/Akhwat)

????Channel WhatsApp
https://bit.ly/326jFFU (Pria/Ikhwan)
https://chat.whatsapp.com/FlWd3Jqg96gKU3KOdHqs2s (Pria/Ikhwan)
https://bit.ly/3k0SLFh (Wanita/Akhwat)

???? Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.

(gwa-mws).