Filosofi Budaya Nginang..

Filosofi Budaya Nginang.. Foto: Ilustrasi.

Oleh: Ahmad Budiono

Sekretaris MUI Jatim

 

BUDAYA NGINANG

Filosofi Budaya Nginang..

Selain keberadaannya yang sudah ada dan berkembang bahkan sebelum abad ke-13,tidak hanya asal mencampurkan bahan lalu dikunyah.budaya nginang ini juga ternyata mempunyai filosofi sendiri pada setiap campuran bahan yang digunakan.

Sirih,dipercaya melambangkan sifat rendah hati,memberi,serta senantiasa memuliakan orang lain.Makna ini ditafsirkan dari cara tumbuh sirih yang memanjat pada para-para,batang pohon sakat atau batang pohon api-api tanpa merusakkan batang atau apapun tempat ia hidup.

Kapur melambangkan hati yang putih bersih serta tulus,tetapi jika keadaan memaksa,ia akan berubah menjadi lebih agresif dan marah.

Gambir adalah tumbuhan yang terdapat di Asia Tenggara,daunnya berbentuk bujur telur atau lonjong,dan permukaannya licin.Bunga gambir berwarna kelabu,gambir juga dimanfaatkan sebagai obat,antara lain untuk mencuci luka bakar dan kudis,mencegah penyakit diare dan disentri,serta sebagai pelembap dan menyembuhkan luka di kerongkongan.Gambir memiliki rasa sedikit pahit,melambangkan keteguhan hati.

Makna ini diperoleh dari warna daun gambir yang kekuning-kuningan serta memerlukan suatu pemrosesan tertentu untuk memperoleh sarinya sebelum bisa dimakan.Hal ini bisa dimaknai bahwa jika mencita-citakan sesuatu,kita harus sabar melakukan proses untuk mencapainya.

Dengan memakan serangkai pinang sirih dan kapur ini merupakan simbol dari harapan untuk menjadi manusia yang selalu rendah hati dan meneduhkan layaknya sirih.Hati bersih,tulus tapi agresif seperti kapur.Jujur,lurus hati dan bersungguh-sungguh layaknya pohon pinang.dan ditambah gambir,berarti sabar dan hati yang teguh bak sang gambir.

Semuanya harus di racik menjadi satu kesatuan yang pas,dan harus benar benar di campur dengan tepat untuk menghasilkan citarasa yang baik.