Dukun Itu Budak Setan

Dukun Itu  Budak Setan Foto: Ilustrasi.

WASPADAI DUKUN MENGAKU KIAI, USTADZ, WALI...!

https://sofyanruray.info/waspadai-dukun-mengaku-kiai-ustadz-wali/

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

DUKUN ITU BUDAK SETAN

Allah ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang (Yahudi) yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt (sihir) dan thaghut (setan dan dukun), dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” [An-Nisa: 51]

Ayat yang mulia ini menjelaskan salah satu bentuk kekafiran Yahudi adalah beriman kepada jibt dan thagut, dan diantara makna jibt adalah sihir, dan thaghut adalah setan dan dukun.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata,

الجبت السحر، و"الطاغوت" الشيطان

“Jibt adalah sihir, dan thaghut adalah setan.” [Tafsir Ath-Thobari, 8/462 no. 9766, Kitab Tauhid, hal. 72]

Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma berkata,

الطواغيت: كُهَّان كان ينزل عليهم الشيطان، في كل حيٍّ واحد

“Thaghut-thaghut adalah dukun-dukun, dahulu setan selalu mendatangi mereka, di setiap kabilah ada satu dukun.” [Ad-Durrul Mantsur, 2/22, 582-583, Kitab Tauhid, hal. 72]

Al-Imam Mujahid rahimahullah berkata,

الجبت السحر، و"الطاغوت"، الشيطان والكاهن

“Jibt adalah sihir, dan thaghut adalah setan dan dukun.” [Tafsir Ath-Thobari, 8/462 no. 9771]

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah menjelaskan,

أي: في كل قبيلة من قبائل العرب كاهن يتحاكمون إليه، ويسألونه عن الغيب. وكذلك كان الأمر قبل مبعث النبي صلى الله عليه وسلم فأبطل الله ذلك بالإسلام، وحرست السماء بالشهب

“Maknanya, pada setiap kabilah Arab dahulu ada seorang dukun untuk mereka berhukum kepadanya dan bertanya tentang perkara ghaib, itulah keadaan sebelum diutusnya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, maka Allah ta’ala menghapusnya dengan Islam dan langit telah dijaga (dari setan pencuri berita untuk disampaikan kepada dukun) dengan bintang-bintang (yang dilemparkan kepada setan-setan tersebut).” [Taisirul ‘Azizil Hamid, hal. 328]

APA KATEGORI DUKUN?

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

والكاهن; قيل: هو الذي يخبر عما في الضمير. وقيل: الذي يخبر عن المغيبات في المستقبل.وكان هؤلاء الكهان تنزل عليهم الشياطين بما استرقوا من السمع من السماء، وكان كل حي من أحياء العرب لهم كاهن يستخدم الشياطين، فتسترق له السمع، فتأتي بخبر السماء إليه. وكانوا يتحاكمون إليهم في الجاهلية

“Dikatakan bahwa dukun adalah:

1) Seorang yang suka mengabarkan apa yang tersembunyi di dalam hati manusia.

2) Juga dikatakan bahwa dukun adalah seorang yang suka mengabarkan perkara-perkara ghaib yang akan terjadi di masa depan.

Dahulu para dukun tersebut didatangi oleh setan-setan dengan membawa berita yang mereka curi dari (pembicaraan malaikat) di langit, dan setiap kabilah Arab memiliki seorang dukun yang memiliki khadam setan-setan, maka para khadam ini selalu datang kepadanya dengan membawa berita curian dari langit, dan kaum musyrikin berhukum kepada para dukun tersebut di masa jahiliyah.” [Al-Qoulul Mufid, 1/493]

Jelaslah bahwa yang mengaku-ngaku tahu perkara ghaib adalah dukun, yang telah sombong mensejajarkan dirinya dengan Allah tabaraka wa ta'ala.

Padahal Allah subhanahu wa ta'ala telah menegaskan,

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” [An-Naml: 65]

Maka barangsiapa mempercayai ucapan dukun berarti ia telah menyekutukan Allah ta'ala dengan dukun tersebut, sehingga ia kafir kepada Allah 'azza wa jalla.

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّد

"Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal, lalu ia mempercayai ucapan dukun atau peramal tersebut maka ia telah kafir terhadap (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -shallallahu'alaihi wa sallam-." [HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan Al-Bazzar dari Jabir radhiyallahu'anhu, Ash-Shahihah: 3387].

(gwa-tuoi).