CATATAN EPIDEMIOLOGIS TERKAIT NEW NORMAL PADA PANDEMI COVID19

CATATAN EPIDEMIOLOGIS TERKAIT NEW NORMAL PADA PANDEMI COVID19 Fuad Amsyari dr, MPH, PhD,.

Oleh Fuad Amsyari dr, MPH, PhD.
 
I. HERD IMMUNITY ITU PENDEKATAN PREVENTIF
 
11. Herd Immunity adalah pendekatan preventif, awalnya agar sekelompok ternak dlm suatu wilayah peternakan tertutup bisa  terlindungi dari serangan epidemi penyakit infeksi yg datang dari luar wilayah peternakan/ranch. Caranya klasik,  ternak divaksinasi dg target cukup 80%  (tdk perlu 100%nya) karena yg 20%  tdk divaksinasi nantinya akan ikut terlindungi tetap sehat oleh  ternak sekelilingnya yg sdh kebal krn vaksinasi. Itulah gambaran yg mudah dicerna bagaimana mekanisme kerja Herd Immunity, kasus perlindungan  sekelompok ternak di suatu peternakan / ranch yg 'tertutup' dari luar. Kini masalahnya adalah jika  ternak bisa dikendalikan mobilitasnya agar tidak mudah keluar-masuk area, maka tentu berbeda dengan mobilitas manusia, apalagi di era saintek sekarang. Ternak di contoh itu dikebalkan dg vaksinasi, tdk oleh proses terInfeksi alami yg bisa membuat ternak sakit & mati sehingga si peternak rugi besar. Bgmn untuk manusia, yg  tentu saja kesakitan &  kematian manusia karena terinfeksi alami suatu penyakit jauh harus lebih dijaga/dihargai dibanding kasus ternak. Dari penjelasan2 di atas tampak jelas bhw Herd Immunity sulit dijadikan basis mengatasi wabah covid19 tatkala belum ditemukan vaksin. 
 
12.  Penyakit menular  covid19 sdh menjadi pandemi, artinya menyebar ke seluruh dunia. Masih bisakah ditemukan KELOMPOK MANUSIA DI SUATU WILAYAH  TERTUTUP yg msh bebas covid dan  hrs dilindungi dari serangan covid19 sehingga perlu digunakan teori Herd Immunity? Kalau dicari2 mungkin akan bisa saja ditemukan sekelompok manusia yg terisolasi di suatu tempat/lokasi yg blm terserang covid19. Bagaimana lalu cara melindungi mereka? Tepatkah jika menggunakan prinsip Herd Immunity? Idealnya  tentu hrs melakukan vaksinasi dg target sekitar 80% penduduknya. Tatkala vaksin covid19 blm ada maka APA YG HRS DILAKUKAN DI SANA? Tentu tidak membiarkan virus masuk ke wilayah itu lalu membiarkan menginfeksi penduduk agar 80%  penduduknya yg sembuh dari serangan bisa punya kekebalan thd cofid19. Pasti tidak begitu bukan? Berapa pula jumlah penduduk yg nanti  tersisa setelah terjadi sejumlah kematian oleh covid19? Bisa2 penduduk di tempat itu hanya tinggal sedikit karena covid19 sangat ganas.  Berapa pula lama waktu yg diperlukan agar penularan covid19 berhenti krn 80% penduduknya sdh kebal covid19 sesudah terinfeksi? Bisa pula makan waktu amat lama jika kecepatan penularan virusnya lambat, mungkin  puluhan tahun. Rumit. Sekali lagi Herd Immunity tampak tidak tepat untuk dipakai dalam penanganan  pandemi covid19.  
 
II.  "NATURAL HISTORY OF DISEASE" COVID19,  HITUNGAN  RESIKO JIKA SUDAH TERTULAR VIRUS. 
 
21. Jika seseorang terinfeksi virus maka  akan terjadi proses di  tubuh orang tersebut secara alami seandainya kepada orang itu tidak dilakukan tindakan medis apapun. Perjalanan penyakit secara alami tsb dinamakan "Natural History of Disease". Ujung perjalanan penyakitnya  bisa sembuh normal, atau  sembuh dg ada cacat permanen tertentu, atau meninggal. Jika orang tersebut  sembuh normal/cacat maka ybs bisa memiliki kekebalan khusus terhadap penyakit itu  sehingga tidak jatuh sakit walau tertular lagi. Namun bisa pula sembuh tanpa  terbentuk kekebalan khusus thd virusnya secara memadai karena sifat virusnya atau kondisi orangnya yg lemah sehingga orang itu msh bisa sakit lagi jika mendapat  penularan baru. Masalah ini juga harus menjadi perhatian dlm menangani covid19. 
 
22. Jika pada orang yg  terinfeksi itu diberikan tindakan medis maka perjalanan penyakitnya bisa berubah, tdk lagi alami. 'Natural History' penyakitnya tdk lagi berlaku karena adanya intervensi pengobatan tsb. Apa hasilnya menjadi lebih baik? Tidak harus selalu begitu karena jika langkah intervensinya salah bisa saja ujungnya malah lebih merugikan dibanding tanpa intervensi. Sepertinya di era saintek ini tentu tidak layak membiarkan ada  infeksi tanpa intervensi, artinya intervensinya tsb  harus benar2 baik. Natural History of Disease pd era ini msh bisa saja terjadi jika infeksinya di wilayah yg relatif terbelakang penduduknya, dan manifestasi klinis penyakitnya ringan saja sehingga tidak menggemparkan. 
 
23. Pada umumnya ujung  perjalanan alami  penyakit oleh infeksi virus itu ringan saja. Diperkirakan kemungkinan besar akan  sembuh dg  sendirinya tanpa gejala klinik yg serius. Jika hal itu diterapkan pada suatu populasi maka sering dikatakan bhw  80% dari penduduk yg terinfeksi tidak merasa sakit, sehingga hanya sekitar  20%nya saja  yg jatuh sakit dengan  menunjukkan gejala klinis khas dari penyakitnya.  
Apakah perjalanan alamiah penyakit seperti ini juga berlaku pada infeksi covid19, dalam arti bhw orang yg sakit dg gejala khusus covid19 hanya  akan sebesar 20% dari semua penduduk yg terinfeksi covid19? Asumsi itu yg sering diutarakan orang tentang kasus covid19 karena virus corons19 tdk beda dg virus lainnya. Maka fokus penanganan covid19 hrsnya tertuju pd yg 20% tsb, sehingga tdk perlu ada gerakan  screening masal pd seluruh penduduk karena umumnya uji  screening tsb tdk spesifik dg validitas rendah.
 
III. INTERVENSI TERHADAP KECEPATAN PENULARAN COVID19
 
31. Virus corona19 menular dari orang terinfeksi ke orang sehat, bisa langsung atau lewat media udara dan benda2. Kata kunci yg hrs diperhatikan bagaimana KECEPATAN PENULARAN ITU. Ukuran yg dipakai adalah "Pertambahan Kasus Baru covid19 dibagi Total Penduduk yg potensial tertular, pd satuan Waktu tertentu", disebut sebagai INCIDENCE RATE (ICR). Lebih tinggi angkanya artinya lbh cepat proses penularannya. Pada setiap wilayah yg sdh terserang covid19 seharusnya dihitung ICRnya dari waktu ke waktu unt dianalisis kecepatan penularannya. Pd wilayah dg penduduk yg tetap, ICR bisa cukup diwakili jumlah penambahan baru per harinya. Jika mau  membandingkan dg wilayah lain maka harus dalam persentasi terhadap jumlsh penduduk di masing2 tempat, tdk boleh hanya jumlah absolut kasusnya saja.
 
32. Jika suatu virus menular cepat yg bisa dilihat dari pertumbuhan ICRnya maka akan terjadi kegelisahan pd masyarakat krn ketakutan ketularan, di samping terjadi pula kepanikan dari sisi pelayanan kesehatan untuk menyiapkan perawatan bagi korban yg berbondobg2 datang. Kepanikan & kegelisahan akan bertambah jika penyakitnya berat dg angka kematian tinggi, dan belum ditemukan obatnya pula. Pada kasus seperti ini orang lalu berupaya keras untuk MENURUNKAN KECEPATAN PENULARANNYA. Dipakailah berbagai tehnik rekayasa yg bisa membuat penularan melambat, disertai harapan syukur2 jika bisa menghentikan penularan penyakit di wilayah itu. Proses inilah yg kini terjadi di pandemi covid19. Apa bentuk upaya memperlambat kecepatan penularan tsb? Dikenal bbrp bentuk upaya itu seperti Lock down, Social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dll termasuk rapid test,  penguatan imunitas personal penduduk. Namun inti dari semuanya adalah PENGENDALIAN  KONTAK ANTAR INDIVIDU. Sejauh mana pengendalian itu dilakukan? Apa dampak sosial ekonomi yg terjadi tatkala upaya2 tsb diterapkan dalam skala luas, bahkan internasional? Kita rasanya sdh tahu dampak sosial ekonominya, hampir semua sektor ekonomi jatuh/ kolaps, kemiskinan meningkat, dll. Kini sedang diproses model kehidupan baru masih mirip kondisi normal seperti sebelum pandemi covid19 namun tetap bisa mengendalikan penularan covid19. Dimana letak  keseimbangannya? Di sinilah pentingnya pesan2 epidemiologis unt menyambut kehidupan yg disebut NEW NORMAL.  
 
 
IV. ZONASI PREVALENSI COVID19 DAN  PEMANFAATAN TEORI CLUSTER.
 
41. Pada setiap satuan  wilayah yg terhuni sejumlah penduduk dapat di hitung berapa persen penduduk tsb yg sedang sakit covid19 pd satuan waktu tertentu, katakan dlm satu hari atau minggu atau bulan tertentu. Angka itu disebut sbg Prevalence Rate (PrR). Angka ini bisa dipakai mengukur brp besar RESIKO TERTULARNYA PENDUDUK OLEH PENYAKIT tsb dlm periode waktu itu. Jika angkanya 0.0005 misalnya maka resiko penduduk disitu untuk tertular covid adalah 5/10.000, atau setiap 2000 orang akan ada seorang yg sakit covid19. Lebih tinggi angka tsb maka resiko tertularnya penduduk di situ menjadi kian besar pula. Jika kemudian ada kumpul2 orang sejumlah100 pd wilayah tadi maka tentu resiko tertular di kelompok 100 tersebut akan sangat kecil tapi tetap ada. 
 
42. Berdasar angka PrR ini maka bisa dibuat ZONASI WILAYAH, mana yg tinggi mana pula yg rendah resiko penularannya. Bisa ada wilayah sebagai Zona bebas covid19, Zona rendah, Zona sedang, Zona tinggi, dst. Pd tiap zona perlu perlakuan berbeda agar  perlakuan/kebijakan itu berdampak bagus pd penanggulangan covid19  dan sekaligus pd kondisi sosial ekonomi penduduknya. Bagaimana prinsip2  epidemiologis yg perlu diterapkan dlm NEW NORMAL? 
 
43. Pada Zona bebas covid19, sebesar apapun skala luas area & jumlah penduduknya, haruslah  dijaga agar area itu TIDAK KEMASUKAN COVID19. Ini prinsip, lindungi zona dg segala cara/ mekanisme  agar wilayah itu tdk kemasukan covid19. Pada saat yg sama pola  kehidupan penduduk di situ bisa  senormal mungkin sptnya di dunia tidak ada pandemi covid19. Saya percaya di ngri ini msh ada banyak ZONA2 BEBAS COVID19, maka lindungi zona itu dg kendali penduduk yg  keluar-masuk zona. Slhkn penduduk hidup normal, di sekolah, di rmh ibadah, belanja, rekreasi, bekerja di dalam zona itu. 
 
44. Untuk ZONA BERCOVID19, hrsnya berlaku New Normal dg memperhatikan teori CLUSTER, yakni kelompok berresiko penularan covid19  tinggi & berulang. Cluster itu bisa industri dg pegawai berjubel di area kerja atau saat antar jemput ke tempat kerja, tempat umum untuk olah-raga, musik, hiburan, perkampungan padat & miskin (slump area), tempat belanja yg besar & sesak spt pasar tradisonal / swalayan, rumah ibadah besar yg berdesakan (kasus mesjidil haram & nabawi misalnya), bahkan rumah tangga  yg sesak penghuni, spt di rusun dll. 
 
45. Pengendalian cluster penularan hrs secara ketat ditata sesuai dg tingkatan zonasi covid19. Prinsip jaga jarak & penggunaan masker di tempat2 padat  seperti industri & antar jemput pekerja, perhelatan besar olahraga-seni, bandara, kampung kumuh, kafe- warkop dll hrs menjadi prioritas. 
 
46. Perlu difahami benar bhw penularan covid19 belum terhenti, baru diperlambat. Sebagiañ besar penduduk (jauh dari 60%nya, jika msh memakai teori Herd Immunity) belum banyak yg punya kekebalan spesifik. Dari hitungan statistik model exponential dg incidence rate sedang,  untuk bisa  mencapai 60% penduduk sdh terpapar covid19 ternyata perlu waktu sktr 9 tahun. Oleh karena itu dalam  cara hidup New Normal msh bisa dimungkinkan terjadi ledakan kasus covid19, membuat Zona covidnya memburuk. Maka mari tetap waspada di era New Normal.
 
Semoga bermanfaat unt dijadikan pertimbangan. 
 
Surabaya, menjelang dibukanya New Normal
(gwa).