BENARKAH PDiP DAN GERiNDRA AKAN BERLAGA HEAD TO HEAD

BENARKAH PDiP DAN GERiNDRA AKAN BERLAGA HEAD TO HEAD Sila Basuki.

Oleh : cak eSBe (Sila Basuki)
 
        Orang ramai berasumsi atau sekedar spekulasi, namun ada juga yang bertransaksi (politik) tentang pasangan cawali (calon walikota) dan cawawali (calon wakil walikota) Surabaya 2020-2025. Tetapi yang paling sering ditunggu dalam pemilu, mulai tingkat pilpres (pemilihan presiden), hingga pilkades (pemilihan kepala desa), adalah situasi kondisi seru dan menegangkan saat kita saksikan pemilihan kandidat pemimpin dengan posisi HEAD TO HEAD. Apa itu ? ..  
         Head to head, atau yang juga disebut H2H, berasal dari kata “head” dalam bahasa Inggeris yang sudah barang tentu sangat familiar ditelinga kita ; bisa berarti kepala, pemimpin, puncak, dan lain-lain. Secara harfiah, defenisi 'head to head' paling populer digunakan dalam laga sepak bola ; yang artinya adalah *laga atau pertandingan "final" (puncak, penting) yang mempertemukan kedua tim*. Lalu, benarkah gerangan PDiP dan GERiNDRA akan head to head dalan laga Pilkada Kota Surabaya ? ..
         Hampir bisa dipastikan, seluruh warga masyarakat di Indonesia, khususnya Surabaya, tahu betul, bahwa Partai Banteng Moncong Putih (PDiP) yang "dijaga" Megawati dan Partai Gerakan Rakyat indonesia Raya (Gerindra) yang "dipangku" oleh Prabowo telah tarung "Head to Head" pada Pilpres 2019 lalu. Namun kita juga tahu, _buju buneng_, akhirnya dua Partai ini "kompromi" telah mengakhiri masa seterunya dan menjalani "bulan madu perkawinan", sejak Prabowo menerima pinangan Joko Widodo dan bersedia menjadi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju (2019-2024).
        Terkait dengan Pilkada Kota Surabaya 2020-2025, sebagaimana prolog di atas, orang ramai berasumsi atau sekedar spekulasi, namun juga sangat mungkin ada yang bertransaksi (politik) tentang pasangan cawali dan cawawali ini. 
         Yang menarik adalah viralnya "pengumuman dan ajakan Dahlan iskan" melalui group-group WA, agar pemilih Surabaya yang berjumlah 2,1 juta (sesuai Daftar Pemilih Tetap versi KPU) "mencoblos" Machfud Arifin (MA), mantan Kapolda Jawa Timur, yang berita santernya, ia sudah bakal diusung oleh Partai Gerindra. 
        Ketua DPD Gerindra Jatim Soepriyatno mengungkapkan, bahwa partainya telah mempunyai jagoan yang akan diusung maju Pilkada Surabaya 2020, untuk menjadi suksesor Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ( Risma ). Sosok tersebut adalah seorang laki-laki berpangkat jenderal. Siapa lagi ? (tribunmadura.com surabaya, 10/12/2019).
        Sementara itu, Ketua DPC Gerindra Surabaya, BF Sutadi menyatakan, DPC hanya mensosialisasikan dan menerima berkas pendaftaran. Untuk uji kepatutan dan kelaikan sepenuhnya kewenangan DPP. Menurutnya, Gerindra dalam melakukan penilaian, tidak hanya memprioritaskan kader partai. Namun lebih pada sosok figur. Nah, klop khan ?!
        Namun lepas dari soal Gerindra, siapapun juga tahu, bahwa MA, saat pilpres 2019 berlangsung, ia adalah Ketua TKD (Tim Kampanye Daerah) Joko Widodo-Ma'ruf Amin (pasangan 01), Jawa Timur. Itu artinya MA adalah orang penting bagi PDiP yang mengusung pasangan 01. Boleh dibilang, MA adalah "anak keponakan" PDiP. Bukan orang lain.
         Bila demikian halnya, mana mungkin PDiP dan GERiNDRA akan lakukan Head to Head (H2H) ?! Saya justru pastikan bahwa 2 Partai besar ini malah bakal APPLE TO APPLE. Apa itu ? ..
          Istilah "apple to apple" adalah membandingkan antara satu dengan satunya secara setara, sesuai (proporsional) yang artinya membandingkan buah apel harus dengan buah apel juga, atau dalam budaya Jawa, dikenal peribahasa "tumbu oleh tutup".
          Saya hampir yakin kalau Pilkada Surabaya 2020 ini bakal di - "main" - kan oleh Partai Pemerintah (PDiP) dengan memajang dan membandingkan : satu pasangan gabungan Cawali + Cawawali yang diusung PDiP dan Birokrat ; serta satu pasangan yang lain, diusung oleh GERiNDRA dan Partai Lain Non-PDiP atau malah balon (bakal calon, kandidat) non partisan. Jadilah 2 pasang KANDiDAT walikota - wakil walikota yang nampak dari "luar" seperti head to head, padahal sesungguhnya itu cuma apple to apple. Kedua pasang WALiBOYO (red., istilah kami) hakikatnya adalah 2 pasang kontestan namun dalam SATU KOMANDO. "Loro-loroning nyawiji" (dua tetapi sesungguhnya satu). Bila benar demikian adanya, lalu partai lain, bagaimana dunk ? ..
        Bukankah satu persatu partai-partai "kecil" (selain PDiP dan Gerindra) itu hanya bisa jadi follower ; orang Jawa bilang : "katut iline banyu" atau "kabur alire angin". Lihatlah, para ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Surabaya mulai "follow" Gerindra. Entah karena terpapar "hipnotis" himbauan Dahlan iskan, atau memang ada lobi-lobi skenario. Yang pasti sudah jelas ; nyatanya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), lalu dikuti oleh Partai Amanat Nasional (PAN), dan berikutnya tentu Demokrat, Golkar, mungkin juga yang lain, setidaknya mulai mikir-mikir akan ikut gabung dalam KOALiSi besar bersama PDiP - GERiNDRA. Sedangkan, yang tidak ikut bergabung dalam koalisi besar itu, maka ia harus siap menghadang "badai" atau mempersiapkan "gelombang" tandingan, mengusung calonnya sendiri, untuk menghantam bahtera hegemoni koalisi besar partai Pemerintah Joko Widodo - Ma'ruf Amin.
        Senyampang dengan itu, sepasang calon iNDEPENDEN, jauh-jauh hari telah deklarasi dan branding sebagai pasangan cawalkot (calon walikota) SUROBOYO, mereka adalah cak M. Sholeh (advokat) dan cak Taufik Hidayat (yakni Taufik Monyong, yang dikenal sebagai seniman), di rumah sejarah HOS Tjokroaminoto, Jalan Peneleh Gang VII Surabaya, Kamis (14/11/2019). Di media on line http://Bisnis.com, cak Sholeh menyatakan, bahwa ia yakin pasangan duetnya akan lebih dahsyat gerakannya dibanding tokoh-tokoh lain yang telah dimunculkan dan didengung - dengungkan selama ini, sebagai Cawali Surabaya yang mampu menggantikan "kehebatan" walikota sekarang, Tri Rismaharini.