800.000 KOMUNITAS MASJID GO DIGITAL, APA YANG AKAN TERJADI

800.000 KOMUNITAS MASJID GO DIGITAL, APA YANG AKAN TERJADI

     Ummat saat ini memiliki 800.000 aset gedung yang hanya dipakai 5 jam per hari. Gedung itu bernama : MASJID

     Dari sinilah awal mula pikiran  pemberdayaan Masjid sebagai asset ummat. Dari pondasi pemikiran ini, kita harus memberi makna pada pemberdayaan masjid, sudah sejauh mana kita MEMANFAATKAN 800.000 asset ini.

     Selain 800.000 bangunan setiap masjid mempunyai jamaah yang artinya adalah 800.000 komunitas.

     Apa gagasan untuk memberdayakan   800 ribu masjid itu : ( Ide ini pernah di tulis oleh Rendy Saputra dan saya lengkapi dengan optimalisasi masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi ummat dengan Teknologi digital 4.0 )
=================

Pertama, optimalisasi masjid sebagai sarana ibadah.

Kedua, optimalisasi masjid sebagai titik manajemen ummat.
Ketiga, optimalisasi masjid sebagai asset fisik.
Keempat, optimalisasi masjid sebagai pusat pemberdayaan Ekonomi Ummat
===================

Kita masuk pada pemikiran pertama, masjid sebagai sarana ibadah.

     Sahabat, masjid biasanya dibangun secara bersama-sama oleh warga, walaupun ada masjid yang memang dibangun oleh pribadi. Perbedaan yang nampak nyata adalah... masjid yang dibangun oleh kekuatan publik biasanya lemah pada pengelolaan, dan masjid yang dibangun personal biasanya terkelola baik. Sederhananya, karena ada sponsor personal yang terus menyuplai kebutuhan perawatan masjid.
     Pada ruang pemikiran pertama ini, Saya lebih memodelkan masjid yang memang dibangun bersama.
     Masjid yang dibangun bersama berarti dimiliki bersama, dimiliki oleh warga. Artinya ia adalah milik ummat. Didalam bisnis, ummat menjadi "owner" dari masjid.
     Tapi disisi lain, masjid juga dituntut melayani ibadah jamaah, maka ummat juga berada pada posisi "market" dalam waktu yang bersamaan.
     Yang biasanya belum ada adalah "Dewan Eksekutif" yang memang menjalankan masjid secara profesional. Dewan direksi beserta jajarannya.
     Sebagian masjid membentuk Dewan Kepengurusan Masjid (DKM), dan DKM secara sukarela menyisihkan waktu untuk mengurus masjid. Pada pengurus DKM usia produktif, mengurus masjid tidak bisa menjadi aktivitas utama, karena harus bekerja dan berbisnis mencari nafkah. Akhirnya mengurus masjid menggunakan waktu sisa.
     Jika para pensiunan mewarnai DKM, aura eksekusinya juga tidak bisa diharapkan cepat, kurang kreatif ...karena natural nya organisasi itu dijalankan oleh usia produktif. (Dengan tetap menghargai para pensiunan yang menjadi DKM)
     Maka, perlu digagas dewan eksekutif yang profesional dalam kepengurusan masjid. Muda, berkapasitas dan memang full dedikasinya untuk mengurusi masjid.
     Artinya..., ada Owner beserta jajaran komisaris dan ada CEO beserta jajaran eksekutornya.
     Ide gila nya disini : 1 masjid, harus dikelola oleh 1 CEO profesional dengan kepuasan jamaah sebagai Key Performance Indicator nya.
1 CEO
1 direktur operasional-ibadah
1 direktur keuangan
1 direktur komunikasi-media
1 direktur ziswaf
1 direktur pembinaan jamaah
1 direkrur General Affair

1 CEO... 6 Direktur ... 7 BOD.

1 direktorat bisa merekrut lagi 5 staff. Akhirnya 1 masjid bisa menyerap 37 tenaga kerja.

     Bayangkan angka 800.000 masjid x 37 tenaga pengelola. Anggaplah dengan masjid kecil, menjadi 20 pengelola per masjid, berarti untuk ranah pelayanan masjid saja, terbuka 16 juta lebih lapangan kerja baru.

     Turunan dari cara kerja seperti ini akan sehat. Bapak-bapak DKM tetap elegan menjadi pengurus DKM. Bapak-bapak akan menjadi owner dan mengawasi kerja jajaran eksekutif. Ini mirip owner bisnis ngontrol pekerja.

     Kan memang iya, uang ummat menggaji CEO+team dan mereka kembali melayani ummat, diawasi oleh perwakilan ummat... share holders..., namanya DKM.

     Selanjutnya, SDM Timur Tengah yang sudah belajar Dienul Islam, Quran, Hadist, akan terberdayakan dengan baik. Jika 1 masjid butuh 1 imam hafidz dan terdidik, maka kita bisa menyerap 800.000 hafidz. 800rb imam, 800rb muadzin.

     Selanjutnya, SDM yang sekolah zakat, sekolah ekonomi, bisa duduk di direktorat keuangan dan zakat.
Semua terberdayakan. Belum lagi kita bicara direktorat pembinaan jamaah yang akan saya sampaikan detail pada pikiran ke 3.
===============•

Pikiran  kedua adalah masjid sebagai titik menajemen Big Data Ummat

     Jika kita bicara manajemen, kita bicara tentang SIAPA yang kita kelola dan BAGAIMANA, mau diapakan.
     Jika kita hadir ke sebuah masjid, dan hadir ke jajaran DKM, mari tanyakan hal ini :
1. Berapa KK yang dilayani oleh masjid ini.
2. Ada berapa laki-laki dewasa yang telah sadar menjadi jamaah ini, nama, usia, profesi, keahlian, dan rumahnya dimana.
3. Berapa anak-anak muslim yang harus menjadi perhatian masjid ini.
4. Berapa muslimah...

Terus.. terus dan terus.. data.. data.. dan data.. dan saya yakin.. datanya tidak ada.

Kecuali memang masjidnya profesional.

     Saya ingin membuka mata anak bangsa khususnya ummat muslim : Jumlah kelurahan dan desa di Negeri ini, menurut data BPS 2016, itu ada 82,030. Ada selisih dengan data lain, tapi bisa dibilang 80.000an.

     Jika jumlah masjid ada 800.000 dan jumlah desa kelurahan ada 80rb, berarti 1 desa/kelurahan terdapat 10 masjid. Sebuah proporsi yang pas untuk manajemen ummat.

Sahabat, bayangkan,....

     Islam menuntun shalat berjamaah 5 waktu di masjid. Berarti ada sekumpulan laki-laki baligh dewasa yang "meet up" 5x sehari. Anehnya, meet up 5x sehari... tetapi hampir tidak ada sinergi yang terjadi. Yang nganggur tetap nganggur, yang sulit kuliah tetap sulit kuliah, yang punya kebutuhan harian beras gula, minyak sabun cuci tetap belanja ke Minimarket milik non jamaah sementara Warung/toko kelontong milik Jamaah sepi hidup segan mati juga tidak, Aneh bukan?

     Konsep masjid sebagai wahana manajemen ummat, dalam benak Saya adalah benar-benar mengurus dan mensinergikan seluruh kekuatan yang ada dalam tubuh ummat.
     Masjid memutuskan sejauh mana rentang wilayah layanannya. Petakan. Tarik area pake spidol. Arsir. Ini wilayah layanan masjid A. Clear. ( butuh peta dan data GeoSpasial )

     Lalu masjid mendata seluruh kaum muslimin pada area tersebut, pokoknya yang muslim didata. Mau ke mesjid atau tidak,  harus menjadi target layanan masjid. _Kan dimandikan dan disholatkannya disitu toh bila meninggal? ( Big Data di mulai dari Masjid dng bantuan Teknologi )

     Dari data ini akan terbaca, tingkat pendidikan, keahlian, engagement dengan masjid, bahkan sampai kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi.

     Lucu dan aneh donk, misalnya ada anak muda bolak balik 5 waktu ke masjid dalam sehari, 5 bulan nganggur, sementara di masjid yang sama  ada pengusaha yang punya bisnis 100 outlet. Ini gak lucu blasss. Apa tidak pernah ada sharing-sharing cerita sinergi ekonomi ya ?

     Lucu donk, ada jamaah yang bingung nyari guru private kalkulus anaknya, sementara sarjana matematika bolak balik berjamaah disebelah si bapak,  apa pada saling membisu ya antar jamaah ?

     Pendataan ini adalah fungsi manajamen dan dengan begini... CEO masjid tidak hanya berfikir proses ibadah berjalan baik, tetapi juga beliau memiliki LIST UMMAT yang harus dilayani. Makanya wajar SDM dedicated, karena kerjanya full time.
- Bapak itu sudah dapat kerjaan belum?
- Ibu itu single parent butuh dicarikan suami nggak?
- Anak keluarga itu pinter tapi kok gak kuliah kenapa?
- Adek itu kok masih nganggur aja.
- Mas itu bisnis kayaknya kurang modal.
- Mas itu punya sepeda motor tapi nganggur, ini ada banyak warung yang bisa di pesan lewat aplikasi masjid, apa bersedia jadi delivery service ?
Hayuk.. masjid bantu.. kira-kira jamaah kita ada yang punya solusi gak ya?

     Bahasan-bahasan seperti ini harusnya menjadi wahana kerja setiap BOD masjid di 800.000 masjid yang ada. Bayangkan... saya membayangkan saja merinding.
     Konsep pelayanan seperti ini akan menarik kekuatan donasi ummat lebih besar. Karena ada programnya ber-RESONANSI. Ummat Islam Indonesia ini mudah, selama ada program, urunan jalan. Gampang. Asal konkret, komunikasi baik. Semua akan mengalir.
     Dengan begini, potensi kekuatan ummat akan hadir. Setiap warga muslim yang terdaftar di masjid tertentu akan terperhatikan. Ikatan-ikatan sosial kita sebagai ummat akan kokoh. Karena masjid hadir bukan hanya sebagai fungsi fisiknya, tetapi fungsi intrinsiknya : melayani kebutuhan ummat
===================

Pikiran  ketiga, masjid sebagai asset fisik ummat

     Sahabat, jika Anda berbisnis, Anda pasti memahami usability. Tingkat kegunaan asset yang Anda punya.
Masjid yang dibangun oleh sebagian besar ummat ini, relatif HANYA digunakan 5 waktu dalam sehari. Itu saja. Jika dari adzan hingga selesai dzikir dan doa itu anggaplah 1 jam, maka masjid hanya digunakan 5 jam dari 24 jam yang ada.
Anda punya pabrik, dipakai 5 jam saja.
Anda punya warung, buka 5 jam saja.
Anda punya mesin fotokopi, bekerja 5 jama saja.
Bagaimana perasaan Anda?
     Ratusan bahkan miliaran rupiah UANG UMMAT sudah di investasikan untuk bangun masjid, tetapi dipakai hanya 5 jam bahkan kurang per hari. Bagaimana perasaan Anda? Bagaimana guncangan fikiran Anda saat ini?
     Dari pemikiran ini, sahabat muslim dengan fikiran pemberdayan, tidak boleh mengijinkan hal ini terjadi. Mubazir.

Mari tantang fikiran kita.

Setelah subuh, masjid lengang mulai pukul 7.00. Coba kita bikin program :

7.00 sd 9.00 : ruang utama masjid jadi wahana kelas hafalan quran untuk remaja yang belum kerja, masih nunggu kuliah, atau memang bisnis, entrepreneur yang waktunya bebas.

09.00 sd 11.30 : masjid menjadi kampus. Buka kelas non formal. Bikin silabus. Pengajar cari relawan. Masjid dipakai gratis. Berarti mahasiwanya bisa gratis. Ini solusi Pendidikan, belajar Bahasa Arab, belajar Bahasa Inggris, Belajar Online Marketing, Belajar bikin Video Pendek, dll

Pada jam ini, ibu-ibu relatif sudah antar anak ke sekolah. Bisa dilakukan taklim ibu-ibu. Jika tidak, selasar masjid menjadi wahana pengajaran bikin roti, menyulam, kerajinan, bahkan kejar paket A, B, C. Apa aja... yang penting manfaat untuk ummat.

13.00 sd 15.00 : mata kuliah kedua. Untuk kelas non formal Pendidikan, belajar Bahasa Arab, belajar Bahasa Inggris, Belajar Online Marketing, digital marketing, Belajar bikin Video Pendek untuk para youtuber, pelatihan jurnalistik medsos, dll

16.00 sd 17.00 : TPQ dihidupkan, jika sudah banyak anak-anak yang sekolah di SDIT, bisa jadi sekolah Quran untuk jamaah dewasa.

20.00 keatas : dirosah islamiah, ajarkan materi kajian ummat shiroh, hadist, fiqh, selesai jam 21.00. Majelis cair terbuka setiap malam.

Pertanyaannya, yang ngajar siapa, SDM nya mana...

kan ada nomor 2 diatas. Masjid banyak uang. Manajemen kokoh. Ada SDM dedicated. SDM pengajar bisa dibayar secara profesional. Dan akan sangat layak plus kegiatan Ekonomi di point ke empat

Intinya mari kita maksimalkan. Bahkan lebih dahsyat lagi, malam harinya bisa gunakan area tertentu untuk tempat inap musafir atau sahabat tunawisma. Kenapa nggak? Semacam shelter inap semalam.

Ambil satu space, lapisi karpet khusus, beri hijab pembatas, jadikan masjid ramah musafir, ramah orang lemah. Disitulah da'wah akan terasa sangat mendalam dihati ummat.

Anak-anak muda bisa wifi-an di masjid. Block aja konten yang negatif.

Beri space berkumpul dan bercengkarama di masjid. Masjid ramah pertemuan.

Ada area masjid untuk playground anak-anak balita. Biar akrab sama masjid, dan saat shalat fardhu dijaga baby sitter khusus. Digaji oleh masjid.

Masjid menjadi tempat bimbel, pelatihan bisnis, diskusi, meet up, yang gak boleh kan jualan di dalam masjid. Pekarangan boleh kayaknya. Banyak koperasi di komplek mesjid kok.

Intinya gunakan. Jangan begitu mau digunakan, ada info : "adik-adik remaja masjid pake acaranya di selasar ya, soalnya karpet masjidnya baru beli"

Ya Salaammm... ini terjadi... aseli... karpet dibelain.. generasi muda Islam gak dikasih tempat... YA JANGAN SAMPAILAH BEGITU  YA !
===============

*Pikiran ke Empat *
Pemberdayaan Ekonomi Ummat dengan Masjid  sebagai Komunitas  berbasis Teknologi Digital 4.0

       Teknologi Aplikasi dalam Gadget saat ini adalah sebuah keniscayaan, Manusia sudah sangat bergantung pada Gadget atau Digital

       GENI  E-Masjid adalah Aplikasi yang menjadikan Masjid sebagai sebuah komunitas yang memiliki 2 kekuatan utama yakni 1. Dana  dan Daya  Beli.
     Dengan melakukan konsolidasi Dana Simpanan dan melayani daya beli jamaah dengan Aplikasi GENI berbasis  komunitas jamaah masjid maka  sejumlah potensi ummat bis akita konsolidasikan dan antar jamaah bisa  saling memenuhi kebutuhan barang dan jasa dengan bertransaksi dan berdagang antar jama’ah itu sendiri. Sehingga Visi “Pemberdayaan Ekonomi Dari Oleh dan Untuk Umat” bisa tercapai.
     GENI di lengkapi dengan Fintech alias Financial Technologi akan didapat dengan mudah di gunakan oleh para jama’ah untuk menyimpan sebagain uangnya pada Lembaga keuangam milik ummat Koperasi /BMT .
     Ketergantungan kita akan keberadaan Gadget  beserta fitur-fitur aplikasinya akan memudahkan pemenuhan kebutuhan mendasar transaksi keuangan antar  jamaah  fitur sudah di desain agar ramah dan  mudah digunakan pengguna  dari berbagai rentang usia, baik colonial maupun milenial. GENI adalah jawaban dari konsolidasi keuangan  umat, yakni “Kemandirian Ekonomi Muslim di Era Digital”.
Karakteristik ummat Islam Indonesia ini "wait and see". Mereka tidak begitu cepat dan inisiatif mengerjakan sesuatu. Pemalu, gak enakan, takut konflik, malas ngasih saran.
     Tetapi ketika ruang-ruang kolaborasi dan sinergi dibuka, maka kekuatan akan datang, Ketika pelayanan jelas terasa, donasi akan hadir berlimpah dengan sendirinya, Baitul Mal tidak akan kering bila Sinergi dan putaran Ekonomi berjalan di antara jamaah masjid dengan media Digital sebagai sarana teknologi untuk memudahkan sinergi itu terwujud.

Siapa mau memulai ?
—————


???? UNDANGAN KAJIAN RUTIN JUM’AT PAGI ????

UNTUK UMUM & FREE

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
     Dengan mengharap ridho Allah Ta'alla, Kami mengundang Panjenengan semua untuk hadir pada acara Kajian Rutin Jum’at Pagi Majelis Ilmu BAITUL IZZAH secara online via Zoom,,
Insya Allah diselenggarakan pada:

???? | Jum’at, 26 Februari 2021
⏰ |  06:00- 08:00 WIB
???? |  "Kajian Ekonomi Digital”
???? | Tema: “Masjid Sebagai Pusat Konsolidasi Ekonomi Umat di Era Digital”
???? |  Ust. Agus Muhammad Maksum, S.Si
(_Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bid. IT,
CEO PT. Geni Mandiri Sejahtera_)

Link Zoom Meeting (Kajian Sabtu & Ahad)
https://us02web.zoom.us/j/9539455299
Meeting ID: 953 945 5299
Password: AFRAFOOD

????Bisa diikuti di Youtube
Link Live Youtube streaming:
https://youtu.be/do4t3hMjsWo

Monggo, Bapak/Ibu  Info Kajian rutin ini di SHARE ke Putra-Putrinya, kerabat dan sahabat-sahabat lainnya

Barakallahu fiikum
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Muhib bukum
1. Mangesti Waluyo Sedjati
2. dr. Ita Puspita Dewi, Sp.KK, FINSDV, FAADV

♻ Note :
1. Join di ZOOM 15 menit sebelum Acara,, ????
2. Siapkan Hp Android untuk praktek menggunakan Applikasi “Geni”